Sri Mulyani: Kenaikan Batas Utang AS Akan Timbulkan Komplikasi Kebijakan Moneter
·waktu baca 2 menit

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan ada sejumlah risiko global yang membayangi pemulihan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah utang pemerintah Amerika Serikat (AS) yang saat ini sudah menyentuh batas atau debt ceiling.
Menurut Sri Mulyani, kondisi tersebut akan menyebabkan komplikasi kebijakan moneter di AS dan bisa berdampak pada ekonomi Indonesia.
"Disebutkan mengenai debt ceiling dan inflasi yang sangat tinggi di atas 6 persen, mungkin akan menimbulkan komplikasi kebijakan moneter dan kecepatan kekuatan tapering yang akan dilakukan di Amerika Serikat," ujar Sri Mulyani dalam CEO Networking 2021, Selasa (16/11).
Seperti diketahui, per Agustus 2021 utang pemerintah AS menyentuh USD 28,4 triliun. Apabila batas utang tidak dinaikkan, maka pemerintahan AS akan ditutup alias government shutdown karena tidak ada anggaran.
Menurut Sri Mulyani, debt ceiling yang terjadi di AS merupakan satu dari beberapa kondisi geopolitik global yang terjadi seiring pemulihan ekonomi.
Kondisi global tersebut bisa mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia, mulai dari mempengaruhi capital flow, pergerakan harga saham, hingga kegiatan di sektor keuangan lainnya seperti bonds dan nilai tukar rupiah.
Menurut Sri Mulyani, seluruh kegiatan di sektor keuangan akan menjadi lebih sensitif terhadap perkembangan risiko global.
Sri Mulyani mengakui kondisi tersebut merupakan tantangan yang tidak mudah. Semua tantangan global tersebut akan bergerak sangat dinamis dan sulit dikendalikan.
Untuk itu Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan berusaha menjaga ekonomi Indonesia tetap kokoh meskipun kondisi global penuh ketidakpastian.
"Kita harus tetap menjaga ekonomi tetap resilient sebab kita mungkin tidak bisa kontrol environment global. Yang kita bisa kontrol adalah pondasi ekonomi kita," ujarnya.
