Kumparan Logo

Sri Mulyani Minta IMF Bantu Negara yang Terdampak Corona

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi IMF. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi IMF. Foto: Getty Images

Pemerintah menyatakan situasi akibat penyebaran virus corona semakin sulit. Tak hanya di Indonesia, hal ini pun dialami oleh hampir seluruh negara.

Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi ekonomi dunia menjadi negatif, dari semula di atas 3 persen selama tahun ini. IMF menyebut kondisi global saat ini lebih buruk dibandingkan krisis ekonomi pada 2008.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, saat ini IMF memiliki dana sekitar USD 1,5 triliun untuk penanganan COVID-19. Dia berharap, dana ini bisa digunakan untuk membantu pencegahan krisis bagi negara anggotanya, terutama yang saat ini mengalami capital outflow atau dana asing keluar.

Sayangnya, Sri Mulyani tak menegaskan apakah Indonesia perlu mendapat bantuan tersebut.

"Saat ini IMF akan menggunakan resource yang dimilikinya yakni USD 1 triliun plus tambahan USD 500 billion untuk dijadikan fasilitas swap line kepada seluruh anggota IMF. Ini masih perlu dapat persetujuan dari seluruh shareholder. Dengan tambahan USD 500 billion, diharapkan IMF bisa bantu secara otomatis yang saat ini hadapi capital outflow dan situasi likuiditas dari USD atau hard currency forex yang sangat ketat," ujar Sri Mulyani dalam video conference, Selasa (24/3).

com-Sri Mulyani Foto: dok. kemdikbud.go.id

Fasilitas swap line merupakan salah satu yang tersedia di IMF untuk mencegah krisis. Swap line bersifat precautionary line, sehingga dapat aktivasi atau ditarik sewaktu-waktu saat negara mengalami potensi krisis neraca pembayaran atau potensi krisis likuiditas jangka pendek.

Sri Mulyani menjelaskan, situasi yang terjadi saat ini adalah krisis di bidang kemanusiaan atau kesehatan. Dia berharap kondisi ini tak sampai melebar menjadi krisis ekonomi, sosial, maupun keuangan.

"Jadi semua negara mencoba untuk constrain, menjaga, agar krisis di bidang kesehatan dan kemanusiaan tidak menimbulkan spillover ke krisis ekonomi. Ekonomi kontraksi, tapi tidak berarti krisis," jelasnya.

Saat ini, pemerintah bersama dengan negara G20 terus berupaya mencegah terjadinya krisis ekonomi.

"Dulu trigger-nya krisis keuangan spillover ke ekonomi dan masyarakat, sekarang sektor kesehatan dan keamanan masyarakat bisa masuk ke sektor ekonomi, dan diharapkan tidak masuk ke krisis selanjutnya," ujarnya.