Sri Mulyani: Pendapatan Negara Terkontraksi 6,2%, Dampak Harga Komoditas Merosot
·waktu baca 2 menit

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pendapatan negara tahun 2024 hingga saat ini mengalami kontraksi, yakni mencapai 6,2 persen. Kondisi tersebut akibat tekanan dari harga komoditas yang terus merosot.
"Pendapatan negara mengalami tekanan akibat harga komoditas yang turun. Mengalami kontraksi 6,2 persen," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan di, Jakarta, Jumat (2/8).
Sementara di sisi belanja, Sri Mulyani mengatakan terjadi peningkatan karena adanya kebutuhan untuk Pemilu hingga program perlindungan sosial atau perlinsos yang harus dilakukan akibat el nino.
"Kenaikannya 11,5 persen. Sehingga defisit APBN tahun 2024 sebesar Rp 77,3 triliun atau 0,34 persen. Masih di bawah batas aman," katanya.
Adapun berdasarkan data APBN KiTA semester I 2024, realisasi pendapatan negara dan hibah tercatat Rp 1.320,73 triliun atau telah mencapai 47,13 persen dari target pada APBN 2024. Secara nominal capaian tersebut lebih rendah Rp 87,17 triliun.
Realisasi penerimaan perpajakan bersumber dari penerimaan pajak, kepabeanan, dan cukai, hingga semester I 2024 penerimaan pajak tercatat Rp 893,85 triliun, serta kepabeanan dan cukai Rp 134,19 triliun.
Dari sisi belanja, realisasi belanja negara hingga semester I 2024 mencapai Rp 1.398,05 triliun (42,05 persen dari pagu, tumbuh 11,34 persen (yoy).
Realisasi belanja negara tersebut meliputi realisasi belanja pemerintah pusat Rp 997,92 triliun dan transfer ke daerah (TKD) Rp 400,13 triliun.
