Kumparan Logo

Sri Mulyani Proyeksi Defisit APBN 2024 Bengkak Rp 609,7 Triliun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menghadiri Rapat Koordinasi Khusus Komwas (Komisi Pengawas) SKK Migas dengan Menteri ESDM Pak Arifin Tasrif.
 Foto: Dok. Instagram@smindrawati
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menghadiri Rapat Koordinasi Khusus Komwas (Komisi Pengawas) SKK Migas dengan Menteri ESDM Pak Arifin Tasrif. Foto: Dok. Instagram@smindrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 mencapai 2,70 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara dengan Rp 609,7 triliun. Angka ini lebih tinggi dari target pemerintah dalam UU APBN 2024 sebesar 2,29 persen dari PDB atau secara nominal Rp 522,8 triliun.

"Kami memproyeksikan APBN 2024 akan ditutup defisit dari keseimbangan primer mencapai Rp 110,8 triliun dan defisit total mencapai Rp 609,7 triliun. Ini artinya terjadi kenaikan defisit defisit 2,29 persen ke 2,7 persen dari PDB," kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Senin (8/7).

Sri Mulyani memproyeksi pendapatan negara hingga akhir tahun mencapai Rp 2.802,5 triliun atau tumbuh 0,7 persen yoy. Moncernya penerimaan negara didorong oleh aktivitas ekonomi yang terjaga positif, implementasi reformasi perpajakan, peningkatan dividen BUMN. Serta peningkatan layanan kementerian/lembaga (K/L).

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan keterangan saat konferensi pers APBN KiTa edisi April 2024 di Jakarta, Jumat (26/4/2024). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Di sisi lain, belanja negara hingga akhir tahun. diproyeksi mencapai Rp 3.412,2 triliun. Angka ini setara dengan 102,6 persen dari pagu APBN 2024 atau tumbuh 9,3 persen.

Bendahara negara itu mengatakan pemerintah akan menggunakan Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar 100 triliun dan penerbitan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 214,6 triliun untuk membiayai pembengkakan defisit APBN 2024.

"Meskipun defisitnya naik, penerbitan SBN-nya tidak naik, malah justru lebih rendah Rp 214,6 triliun," katanya.

instagram embed