Sri Mulyani: RI Terbukti Ampuh Lewati 3 Kali Krisis Ekonomi Global
·waktu baca 2 menit

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa langkah-langkah pemerintah Indonesia terbukti ampuh melewati masa-masa kritis atau krisis ekonomi. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, setidaknya terjadi tiga kali krisis ekonomi yang mengguncang dunia.
Dia menjelaskan, yang pertama adalah Asia Financial Crisis pada 1998-1998. Sri Mulyani mengatakan krisis tersebut membuat Indonesia yang luar biasa hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13 persen. Pada waktu itu juga Indonesia mengalami krisis keuangan, krisis perbankan, krisis ekonomi hingga krisis politik.
"Guncangan kedua yang begitu keras adalah Global Financial Crisis pada tahun 2008-2009, namun Indonesia mampu bertahan dan merespons secara cukup baik sehingga kita lihat dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi tidak terlalu besar," kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara di PKKMB UI 2022, Senin (8/8).
"Guncangan itu tidak dirasakan terlalu besar oleh masyarakat walaupun sebenarnya dari sisi keuangann luar biasa sangat besar," imbuhnya.
Krisis Ekonomi Akibat COVID-19
Adapun krisis selanjutnya yakni terjadi pada 2020 awal ketika terjadi pandemi COVID-19. Sri Mulyani mengatakan melalui instumen fiskal APBN, masyarakat Indonesia tetap bisa terlindungi dari dampak yang lebih besar.
Pada saat itu, APBN didesain untuk bisa merespons gejolak global yang disebabkan oleh Pandemi COVID-19. Sehingga dampaknya ke masyarakat Indonesia bisa diredam, tidak terlalu parah.
"Ini adalah sebuah respons evolutif disebabkan karena tantangannya juga bergerak terus. Pada saat bulan Maret tidak ada satu pun negara di dunia yang tahu bagaimana merespons dengan kondisi pandemi dan virus yang belum diketahui bagaimana penyembuhannya," ujarnya.
APBN selama pandemi, kata dia, terus melakukan respons yang fleksibel. Salah satunya adalah dari sisi defisit APBN di mana APBN didesain agar melindungi masyarakat dari guncangan yang lebih besar.
"Sampai hari ini kita mampu untuk tetap defisit pada level yang relatif rendah namun pemulihan ekonomi sudah mulai berjalan," pungkasnya.
