Kumparan Logo

Sri Mulyani Sebut Isu Riba Selalu Dimunculkan saat Bicara soal Utang

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 di Jakarta, Rabu (19/2/2020).  Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 di Jakarta, Rabu (19/2/2020). Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa selama ini isu mengenai riba selalu dimunculkan saat bicara tentang pinjaman atau utang. Padahal, saat ini suku bunga global mencapai 0 persen atau bahkan negatif di beberapa negara di Eropa.

“Pembahasan mengenai isu-isu riba, pinjaman, ini sering sekali stigma dimunculkan. Seolah-olah kalau bicara tentang pinjaman kemudian identik dengan riba,” kata Sri Mulyani yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) dalam webinar Economic Policy in Dealing with COVID-19 Pandemic and Proper Exit Policy yang digelar IAEI, Selasa (6/4).

“Fenomena hari ini dengan suku bunga 0 persen atau negatif di Eropa, pemikiran kita apa ini?” lanjutnya.

Menurut dia, jika bunga utang nol persen atau negatif tersebut disebut riba, maka informasi itu dinilai tidak lengkap atau asymetric information.

“Karena kalau disebut riba, Anda mengeksploitasi mengenai asymetric information, sisi yang lain informasinya tidak lengkap dibanding sisi yang satunya yang memiliki informasi lengkap, bisa mengeksploitasi,” jelasnya.

Uang dolar dan rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing/money changer. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Ia juga menuturkan, Islam mengajarkan bahwa keadilan adalah nomor satu. Sehingga sesuatu yang dinilai tidak adil tersebut harus dikoreksi.

Sri Mulyani juga mengatakan bahwa pinjam-meminjam adalah sesuatu yang dibolehkan dalam Al-Quran. Namun harus dilakukan secara terukur, dicatat, dan digunakan secara prudent atau hati-hati.

“Di dalam Quran, pinjam-meminjam boleh, tapi harus diadministrasikan, dicatat dengan baik, digunakan secara hari-hati,” katanya.

Ia pun berharap, hal-hal tersebut bisa menjadi pembahasan bagi para ekonom Islam, yang memiliki kemampuan teknis analisis dan kontribusi di dalam perekonomian Indonesia.

“Saya berharap inilah yang bisa menjadi tempat bagi kita untuk berkomunikasi, berdiskusi, mencari ikhtiar komunikasi bagi bangsa Indonesia,” tambahnya.