Sri Mulyani Sebut Risiko AS Gagal Bayar Utang Tidak Pengaruhi Ekonomi Indonesia
·waktu baca 2 menit

Amerika Serikat (AS) saat ini dibayangi risiko gagal bayar utang. Meski begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan hal tersebut tidak akan berimbas ke perekonomian Indonesia secara umum.
"Sampai hari ini perkembangan itu tidak ada pengaruhnya ke perekonomian kita, terutama pasar belum memberikan sinyal terhadap kemungkinan dinamika politik itu. AS bisa bayar kalo debt ceiling dibuka, tapi ada dinamika politik untuk membuka debt ceiling," ujar Sri Mulyani saat konferensi pers KSSK di Kantor LPS, Jakarta, Senin (8/5).
Tak hanya itu, derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia juga membuat rupiah terus menguat terhadap dolar AS.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,03 persen di kuartal I 2023 dan inflasi yang terjaga sebesar 4,33 persen di April 2023 dinilai masih stabil dari tekanan global.
"Ini semua kombinasi agak langka, ini positif support sentimen karena kinerja ekonomi membaik, capital inflow naik, year to date Rp 65,76 triliun yang masuk membeli SBN, yang menggambarkan prospek, risiko CDS kita membaik," tambahnya.
Janet Yellen Yellen Peringatkan tentang Kekacauan Ekonomi
Menteri Keuangan AS, Janet Yellen menyebut, jika kongres tak kunjung menaikkan plafon utang pemerintah, maka akan menyebabkan penurunan ekonomi yang tajam di AS.
Dikutip dari CNBC, Selasa (9/5), Janet menyampaikan peringatannya bahwa pihaknya mungkin kehabisan langkah untuk membayar kewajiban utangnya pada bulan Juni 2023 mendatang.
"Proyeksi kami saat ini adalah bahwa pada awal Juni, suatu hari akan tiba ketika kami tidak dapat membayar tagihan kami kecuali Kongres menaikkan plafon utang, dan itu adalah sesuatu yang saya sangat mendesak Kongres untuk melakukannya," Janet Yellen, Menteri Keuangan AS.
Dirinya menyebut, sejatinya AS telah mengambil 'langkah luar biasa' untuk menghindari gagal bayar, dan itu bukan sesuatu yang dapat terus dilakukan Departemen Keuangan. Sehingga Yellen mengatakan Kongres perlu mengambil tindakan untuk menghindari 'malapetaka ekonomi'.
“Disepakati secara luas bahwa kekacauan finansial dan ekonomi akan terjadi,” kata Yellen.
