Sri Mulyani Sebut Subsidi Energi Rp 502 T Habis Oktober 2022, BBM Jadi Naik?

26 Agustus 2022 19:11
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam High Level Seminar G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7).  Foto: Kemenkeu RI
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam High Level Seminar G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7). Foto: Kemenkeu RI
ADVERTISEMENT
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut subsidi energi sebesar Rp 502 triliun akan habis pada Oktober 2022. Pasalnya, tingkat konsumsi untuk solar dan pertalite diperkirakan melampaui kuota anggaran yang telah ditetapkan di APBN.
ADVERTISEMENT
"Yang terjadi sekarang konsumsi untuk solar dan pertalite diperkirakan jauh melampaui apa yang ada di APBN. Menurut ESDM dan BPH Migas, akan mencapai 17,44 juta KL solar. Artinya 115 persen yang sudah dianggarkan APBN," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers, di Jakarta, Jumat (25/8).
"Sedangkan pertalite lebih besar lagi dengan konsumsi 8 bulan akan mencapai 29,07 juta KL. Artinya pertalite jumlahnya 126 persen dari kuota," tambahnya.
Jika diasumsikan, selama 8 bulan terakhir 15,1 juta KL solar akan habis di bulan Oktober. Demikian pula dengan pertalite, sebanyak 23,05 juta KL akan habis di bulan Oktober jika asumsi konsumsi tetap sama yakni di level 2,4 juta KL atau 2,5 KL per bulan.
ADVERTISEMENT
"Itu berarti Rp 502 triliun akan habis di Oktober 2022," tegas Menkeu.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Bendahara negara tersebut mengungkapkan, jika tren tersebut dibiarkan, pemerintah perlu menambah anggaran subsidi energi sebesar Rp 195 triliun. Artinya, jumlah subsidi menjadi Rp 698 triliun.

Harga Jual BBM Dianggap Bebani APBN

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan sebelumnya menyoroti tingginya harga minyak mentah dunia menimbulkan gap harga keekonomian dengan harga jual pertalite dan solar. Alhasil, APBN menanggung pembengkakan beban subsidi hingga mencapai Rp 502 triliun.
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pertamina dengan Chevron New Ventures Pte. Ltd di Washington DC, Kamis (12/5/2022). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pertamina dengan Chevron New Ventures Pte. Ltd di Washington DC, Kamis (12/5/2022). Foto: Dok. Istimewa
Angka ini, dinilai bisa membengkak hingga Rp 550 triliun sampai akhir tahun jika pemerintah tidak menaikkan harga pertalite dan solar.
"Pemerintah masih menghitung beberapa skenario penyesuaian subsidi dan kompensasi energi dengan memperhatikan dampaknya pada masyarakat," ujar Luhut dalam keterangannya pada Minggu (21/8).
ADVERTISEMENT
Saat ini, pertalite masih dijual Rp 7.650 per liter. Menurut Luhut, harga tersebut merupakan yang paling murah di kawasan Asia Tenggara. Terlebih, harga minyak dunia sudah di level USD 90-100 per barel, jauh dari asumsi dalam APBN USD 63 per barel.
Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menghitung harga ideal bagi BBM subsidi yang direncanakan akan naik tersebut. Untuk pertalite, harganya yaitu Rp 10.000 per liter, sementara solar bisa dipatok seharga Rp 8.500 per liter.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020