Kumparan Logo

Sri Mulyani: Setiap Suku Bunga AS Naik, Negara Berkembang Krisis Keuangan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam High Level Seminar G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7).  Foto: Kemenkeu RI
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam High Level Seminar G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7). Foto: Kemenkeu RI

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut risiko resesi yang dihadapi seluruh dunia tak lepas dari rencana Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) yang akan kembali mengerek suku bunga acuan.

The Fed berencana menaikkan lagi suku bunga acuannya hari ini yang diprediksi akan mengerek sebanyak 75 basis poin dari level 1,5 persen-1,75 persen ke 2,25 persen-2,5 persen.

"Dengan kenaikan suku bunga yang makin agresif dari Federal Reserve, membuat adanya tantangan atau ancaman resesi. Setiap Amerika menaikkan suku bunga apalagi secara sangat agresif biasanya diikuti oleh krisis keuangan dari negara-negara emerging (berkembang) " kata Sri Mulyani dalam konferensi APBN KiTa Edisi Juli 2022, Rabu (27/7).

Berdasarkan survei yang dirilis Bloomberg, Sri Mulyani menjelaskan, probabilitas kemungkinan terjadinya resesi di kawasan Amerika mencapai 40 persen, kemudian Eropa 55 persen.

"Kalau kita lihat RRT (China) yang merupakan ekonomi kedua terbesar di dunia, yang menerapkan policy lockdown probabilitas dari resesi tahun ini oleh Bloomberg Survey adalah 20 persen," jelas dia.

Meskipun demikian, bendahara negara tersebut memastikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih relatif aman. Dalam survei tersebut, potensi resesi Indonesia hanya 3 persen dibandingkan negara lain.

Meski begitu, Sri Mulyani juga tetap mewaspadai gejolak ekonomi saat ini, sebab semua indikator global dalam keadaan negatif, dari yang sebelumnya mulai bangkit usai dua tahun dihantam pandemi COVID-19, kini kembali melemah.

"Pada saat yang sama kita juga melihat kompleksitas dari policy yang bisa menimbulkan spillover policy. Dari sisi moneter di negara-negara maju berpotensi menimbulkan over atau imbas negatif ke negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia harus juga waspada," pungkas dia.