Kumparan Logo

Sri Mulyani soal IMF Minta Kurangi Utang: Bukan untuk Indonesia

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Diskusi Ekonomi bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (dua dari kiri), Happy Salma (dua dari kanan), Chatib Basri (kanan). (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi Ekonomi bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (dua dari kiri), Happy Salma (dua dari kanan), Chatib Basri (kanan). (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)

Pemerintah menegaskan pernyataan Dana Moneter Internasional (IMF) agar pemerintah bisa mengurangi utang demi mengurangi risiko penurunan ekonomi global tak relevan untuk Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pernyataan IMF tersebut lebih sesuai untuk sejumlah negara yang memiliki rasio utang tinggi. Adapun dalam laporan kuartal III 2018, IMF sempat menyebut ada 40 persen negara berpendapatan rendah (low income country) yang rasio utangnya sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 100 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara Indonesia, data terakhir saat ini total utang pemerintah sebesar Rp 4.395,6 triliun dengan rasio utang 29,91 persen terhadap PDB per November 2018. Angka ini masih lebih kecil dibandingkan standar internasional yang sebesar 60 persen terhadap PDB.

"Jadi tidak relevan untuk Indonesia statement itu. Kita makin menurun (rasio utang)," ujar Sri Mulyani di kawasan Cikini, Jakarta, Selasa (22/1).

Diskusi ekonomi bersama Menkeu Sri Mulyani (kedua dari kiri), Happy Salma (kedua dari kanan), dan Chatib Basri (kanan). (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi ekonomi bersama Menkeu Sri Mulyani (kedua dari kiri), Happy Salma (kedua dari kanan), dan Chatib Basri (kanan). (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)

Selain rasio utang yang masih lebih rendah, defisit anggaran juga dinilai masih kecil, yakni 1,76 persen terhadap PDB hingga akhir Desember 2018. Sementara negara lain defisit anggarannya bisa mencapai 6 persen terhadap PDB.

Menurut Sri Mulyani, pernyataan IMF tresebut sesuai dengan negara-negara tersebut, yang memiliki rasio utang tinggi serta defisit anggaran yang melebar. Dia mencontohkan Italia, yang rasio utangnya mencapai 100 persen dan defisit anggarannya di atas 2,4 persen dari PDB.

"Untuk negara itu lah statement IMF berlaku. Negara itu harus jaga kesiembangan fiskal dengan mengurangi defisit, dengan mengurangi utangnya tanpa membuat growth melemah, kalau melemah, utang turun juga tidak akan menurun," tambahnya.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde saat penutupan Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua Bali, Minggu (14/10/2018). (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde saat penutupan Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua Bali, Minggu (14/10/2018). (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,5 persen di tahun ini. Lembaga keuangan internasional ini menyatakan risiko ketidakpastian semakin meningkat dan menyebabkan volatilitas yang tinggi di pasar keuangan.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menuturkan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan negara untuk menekan risiko tersebut. Salah satunya adalah mengurangi utang pemerintah.

Madam Lagarde berpendapat, pengurangan utang pemerintah bisa memberikan ruang untuk melawan penurunan ekonomi. Namun hal ini harus dilakukan secara fleksibel dan lebih elastis, agar pengurangannya justru tak semakin menurunkan perekonomian pada negara tersebut.

"Mengurangi utang pemerintah yang tinggi akan membuka ruang yang dibutuhkan untuk melawan penurunan di masa depan. Tetapi ini harus dilakukan dengan cara yang adil dan ramah pertumbuhan," ujar Lagarde dalam keterangan resmi.