Kumparan Logo

Sri Mulyani Soal Utang Saat Pandemi: RI Lebih Rendah Dibandingkan Negara Lain!

kumparanBISNISverified-green

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan, Sri Mulyani didampingi Dirjen Pengelolaan dan Resiko, Luky Alfirman (kiri) memberikan keterangan pers terkait APBN Kinerja dan Fakta (Kita) Agustus 2019 di Kantor Kemenkeu. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan, Sri Mulyani didampingi Dirjen Pengelolaan dan Resiko, Luky Alfirman (kiri) memberikan keterangan pers terkait APBN Kinerja dan Fakta (Kita) Agustus 2019 di Kantor Kemenkeu. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut utang sejumlah negara, termasuk Indonesia, mengalami kenaikan pada tahun lalu. Namun menurut dia, rasio utang pemerintah itu masih lebih rendah dibandingkan negara lain selama pandemi COVID-19.

Adapun total utang pemerintah tembus Rp 6.074,56 triliun di akhir 2020. Utang pemerintah ini naik hingga 27,1 persen atau Rp 1.296 triliun dari periode akhir tahun 2019 yang sebesar Rp 4.778 triliun.

Rasio utang pemerintah tersebut mencapai 38,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di akhir tahun lalu. Angka ini juga jauh lebih besar dari akhir 2019 yang hanya 29,8 persen terhadap PDB.

"Indonesia mengalami kenaikan utang negara pada 38,6 persen. Angka ini bila dilihat dengan negara-negara G20 atau Asean jauh lebih baik," ujar Sri Mulyani dalam webinar Economic Recovery, Rabu (27/1).

Sri Mulyani pun membandingkan rasio utang sejumlah negara maju lainnya selama pandemi COVID-19. Berdasarkam data Dana Moneter Internasional (IMF), rasio utang AS dan Jepang mencapai lebih dari 100 persen dari PDB.

Rasio utang AS tercatat sebesar 131,2 persen dari PDB, sementara di Jepang utang pemerintah 118,7 persen dari PDB.

Menteri Keuangan Sri Mulyani berbicara di depan Presiden dan Wakil Presiden Foto: Instagram @smindrawati

"Negara-negara tetangga kita mengalami hal yang sama, Malaysia utangnya mengalami kenaikan mencapai 67 persen dari PDB, Filipina 48 persen dari PDB. Bahkan Singapura lebih dari 130 persen PDB," jelasnya.

Sri Mulyani menuturkan, kenaikan utang ini sebagai risiko dari melebarnya defisit anggaran yang dialami oleh seluruh negara. Indonesia dengan defisit APBN 2020 sebesar 6,1 persen dari PDB, juga dinilai lebih rendah dibandingkan negara lain.

"Defisit 6,1 persen lebih modest (rendah) dibanding negara lain yang punya tekanan lebih berat. Dengan naiknya defisit APBN, dalam mengelola defisit semua negara dunia mengalami kenaikan utang," tambahnya.