Kumparan Logo

Sri Mulyani Ungkap Alasan Investasi Tol di Jawa Lebih Menarik dari Sumatera

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan keterangan pers terkait pertemuan ASEAN Tingkat Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan (AFHMM) di Jakarta, Kamis (24/8) Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan keterangan pers terkait pertemuan ASEAN Tingkat Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan (AFHMM) di Jakarta, Kamis (24/8) Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan investasi jalan tol Jawa lebih menarik ketimbang Sumatera. Mengingat kondisi infrastruktur Jawa jauh lebih matang.

"Proyek jalan tol di Pulau Jawa relatif lebih matang. Itulah mengapa kita dapat menarik lebih banyak investasi dari swasta," kata Sri Mulyani dalam acara ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting and Related Meetings di Hotel Mulia, Kamis (24/8).

"Sementara jalan tol di Sumatera, mungkin lebih sedikit karena masih dalam kemacetan dan tantangan pembangunan fisik jalan, yang berbeda dengan Pulau Jawa," imbuhnya.

Hal tersebut tentu memicu pembangunan infrastruktur yang tidak merata di Indonesia. Mengingat, dibutuhkan kolaborasi, baik dari pemerintah maupun sektor swasta, misalnya terkait pembebasan lahan, pembelian lahan, belanja modal, hingga pembangunan.

instagram embed

Lebih lanjut, Sri Mulyani membeberkan tiga hal penting dalam membangun infrastruktur Indonesia. Pertama, merencanakan kebijakan yang tepat untuk menarik investor.

"Kebijakan yang tepat akan menarik untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur," ungkapnya.

Kedua, melakukan persiapan yang matang untuk memulai pembangunan infrastruktur. Termasuk menyiapkan infrastruktur pendukung seperti jalan raya, sumber air bersih, ketersediaan listrik.

"Biasanya hal tersebut memerlukan persiapan terutama jika mempertimbangkan aspek lingkungan, aspek sosial, dan juga isu risiko tata kelola," terang dia.

Hal penting ketiga adalah kolaborasi antar pemangku kepentingan. Sri Mulyani menegaskan, pembangunan infrastruktur tidak bisa mengandalkan satu sumber pembiayaan saja.

Berdasarkan buku Nota Keuangan 2024 yang diterima kumparan, secara umum, anggaran infrastruktur yang bersumber dari APBN belum sepenuhnya mampu membiayai kebutuhan investasi pembangunan infrastruktur nasional.

Dalam upaya mencapai target pertumbuhan PDB dalam RPJMN 2020-2024, kebutuhan belanja infrastruktur mencapai Rp 6.445 triliun. Oleh

karena itu, diperlukan upaya inovatif untuk mendorong peran serta investasi swasta dan badan usaha melalui beberapa skema KPBU dan skema pembiayaan kreatif lainnya.