Kumparan Logo

Startup Sayur & Buah Bananas yang Gulung Tikar Baru Beroperasi 10 Bulan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
16
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi quick commerce Bananas. Foto: Dok. Bananas
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi quick commerce Bananas. Foto: Dok. Bananas

Startup penjualan sayuran dan buah-buahan segar secara online, Bananas, terpaksa menutup layanannya tahun ini. Padahal perusahaan baru beroperasi 10 bulan sejak diluncurkan pertama kali Januari 2022.

Pengumuman bakal ditutupnya operasional Bananas disampaikan manajemen dalam akun Instagram @bananasindonesia baru-baru ini. Bananas gulung tikar karena bisnisnya tidak lagi menguntungkan.

"Dari lubuk hati yang terdalam, kami ingin terus melayani pelanggan setia kami. Namun, setelah beroperasi selama berbulan-bulan sambil terus-menerus bereksperimen dengan berbagai bagian bisnis, kami tidak dapat melihat bagaimana unit ekonomi dapat bekerja," kata manajemen dikutip kumparan, Senin (17/10).

Pengumuman startup BANANAS tutup. Foto: Instagram/@bananasindonesia

Dengan penutupan ini, para pekerja di dalamnya terdampak alias kena PHK. Meski tak menyebutkan berapa jumlahnya, perusahaan mengaku keputusan berat ini harus diambil.

Perusahaan berterima kasih pada tim yang selama 10 bulan dengan cepat membangun dan melakukan branding pada Bananas. Manajemen juga mengucapkan terima kasih kepada mitra dan pemasok utama yang telah mendukung Bananas dengan menyediakan produk terbaik yang bisa dibeli pelanggan melalui aplikasi Bananas.

"Ini hanya satu kemunduran daripada perpisahan permanen dari tim di belakang Bananas. Kami yakin bahwa masa-masa sulit ini hanya akan menempa orang-orang di dalamnya untuk menjadi lebih baik dan lebih kuat di masa depan," lanjut Bananas.

Sebelum benar-benar menghentikan layanannya, Babanas akan menjual produk yang tersisa dengan harga miring.

"Kami akan menghentikan operasi e-grocery kami setelah menjual sisa persediaan produk dengan diskon besar-besaran," terang manajemen.

Startup Penjualan Sayuran dan Bahan Makanan Berguguran

Sebelumnya startup Brambang yang menjual berbagai bahan makanan segar lebih dulu tutup layanan. Dalam pengumuman di akun Instagram resminya, Brambang menyebut layanan penjualan mereka telah ditutup sejak 27 Mei 2022 lalu.

Layanan Brambang yang sebelumnya bergerak di sektor groceries beralih ke penjualan barang elektronik dengan branding baru Brambang Elektronik.

"Halo pelanggan setia Brambang.com. Terima kasih atas kepercayaan Anda selama ini, kami informasikan bahwa layanan groceries Brambang akan berhenti pada Jumat, 27 Mei pkl 19.00 WIB," tulis akun Brambang.com, dikutip Senin (30/5).

September lalu, platform e-grocery HappyFresh dikabarkan menghentikan layanan mereka di Indonesia. Sejumlah mitra toko di aplikasi perusahaan tidak lagi menerima pembelian atau pengiriman dalam waktu dekat.

Beberapa mitra supermarket layanan asal Indonesia itu juga memberi informasi ke publik bahwa HappyFresh menghentikan kegiatan operasionalnya sampai pemberitahuan lebih lanjut per 10 September 2022. Salah satu yang memberikan informasi tersebut adalah Papaya Fresh Gallery.

Personal Shopper HappyFresh Foto: dok.HappyFresh

Sementara Ranch Market juga mengabarkan pelayanan pemesanan dan pengiriman HappyFresh ditutup sementara waktu. Lewat keterangan yang diterima kumparanTECH, mereka mengalihkan order online ke cabang Ranch Market di Kemang lewat WhatsApp atau e-commerce BliBli.

Startup di bidang sama yang juga mengalami masalah operasional adalah TaniHub. Pada Februari 2022, TaniHub memutuskan untuk menutup dua warehouse atau gudang mereka. Penutupan dilakukan perusahaan agriculture technology berbarengan dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan.

Kabar tersebut dibenarkan Senior Corporate Communication Manager TaniHub Group, Bhisma Adinaya.

"Betul bahwa saat ini TaniHub menghentikan operasional warehouse Bandung dan warehouse Bali," jelas Bhisma dalam keterangan tertulis kepada kumparan, Senin (28/2).

Saat pandemi menerpa dunia, startup Stoqo jadi salah satu yang tidak bisa bertahan. Stoqo sendiri merupakan startup penyedia bahan bahan baku makanan untuk bisnis kuliner. Layanan mereka tutup pada April 2020 lalu.