Stok Rempah AS Menipis Jelang Akhir Tahun, Minta Kiriman dari Indonesia
·waktu baca 2 menit

Kemenko Pangan merespons Amerika Serikat (AS) yang kekurangan stok rempah menjelang perayaan Thanksgiving, Natal, dan Tahun Baru.
Kondisi menipisnya stok rempah di AS ini salah satunya akibat adanya kasus kontaminasi cesium-137 (CS-137) pada rempah asal Indonesia.
Oleh karena itu, Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar-Lembaga Kemenko Pangan, Bara Krishna Hasibuan, menegaskan Indonesia akan meningkatkan standar terhadap komoditas rempah yang diekspor ke AS.
“Ya (AS kekurangan rempah dan minta kiriman), makanya kan asosiasi mereka datang ke Jakarta dan saya temui kira-kira tiga minggu lalu,” kata, dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (29/10).
Untuk itu, Indonesia akan melakukan peningkatan standar terhadap komoditas rempah yang akan diekspor ke AS. Nantinya, rempah akan disertifikasi oleh BPOM. Proses peningkatan standar dilakukan baik di laboratorium BPOM maupun di laboratorium non-BPOM.
“Tentu kita ingin mempercepat proses ini agar ekspor spices ke AS bisa dipulihkan secepatnya, atau sertifikasi itu benar-benar dipercepat prosesnya, sehingga ekspor bisa segera dilakukan,” ujarnya.
Hal ini juga sejalan dengan permintaan asosiasi rempah AS. Bara menuturkan, mereka meminta agar proses sertifikasi dilakukan secara cepat dan efektif karena kasus CS-137 berdampak pada stok rempah di AS.
Selain itu, Bara juga menuturkan bahwa asosiasi rempah AS sedang meyakinkan FDA bahwa Indonesia mampu meningkatkan standar.
“Sehingga mereka mencoba meyakinkan pihak FDA bahwa Indonesia mampu melakukan ini. Indonesia punya kapasitas yang cukup untuk melakukan sertifikasi, dan proses dekontaminasi juga dilakukan secara cepat dan efektif. Hal itu sudah disampaikan ke FDA,” kata Bara.
Terkait potensi peningkatan volume ekspor rempah, Bara membuka kemungkinan untuk memanfaatkan rempah yang berasal dari daerah-daerah yang tidak terkontaminasi paparan radiasi, salah satunya dari Sulawesi.
“Itu pasti. Kan spices itu ada dari Sulawesi. Sulawesi kan banyak, penghasil cengkeh utama dan besar. Selain itu, ada juga dari Maluku yang kaya dengan pala. Jadi, daerah lain tetap aktif melakukan ekspor ke AS melalui perusahaan-perusahaan lain,” ujarnya.
Sebelumnya, US FDA sempat melaporkan adanya produk rempah asal Surabaya yang mengandung cemaran CS-137. Hal ini membuat ekspor rempah ke AS menghadapi tantangan karena kini terdapat syarat yellow list dan red list.
