Kumparan Logo

Strategi Ekonomi Sumitro Djojohadikusumo Relevan di Era Ketidakpastian Global

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana kawasan padat penduduk dengan latar belakang gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (6/12/2024). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kawasan padat penduduk dengan latar belakang gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (6/12/2024). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Dunia tengah memasuki babak baru dalam dinamika perekonomian global, bergeser dari pertarungan antara kapitalisme dan sosialisme menuju the age of ambition era ambisi besar antarnegara dalam mengejar dominasi ekonomi. Di tengah ketidakpastian ini, pemikiran ekonom legendaris Indonesia, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, dinilai kembali relevan sebagai pijakan dalam merumuskan arah kebijakan ekonomi nasional.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, menegaskan bahwa dunia kini menghadapi risiko resesi dan depresi akibat ambisi ekonomi negara-negara besar. Dalam menghadapi tantangan tersebut, pemikiran Sumitro menjadi warisan intelektual yang layak dikaji ulang.

“Berbagai pemikiran begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo masih relevan membantu Indonesia bertahan di tengah ketidakpastian. Dorodjatun menyebut Sumitro sebagai salah satu dari tiga begawan ekonomi Indonesia yang pemikirannya masih layak diteladani hingga kini,” ujar Dorodjatun dalam pidato kuncinya di Simposium Nasional bertajuk Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia, Selasa (3/6).

Menurut Dorodjatun, kekuatan pemikiran Sumitro terletak pada kelengkapan pendekatannya. Mulai dari filosofi, visi, dan misi pembangunan ekonomi; teori ekonomi yang solid; analisis yang tajam; hingga formulasi kebijakan berbasis kepentingan rakyat. Gagasan mengenai ekonomi kerakyatan yang ia usung sejak awal kemerdekaan, lanjutnya, masih relevan dan terus diperjuangkan dalam berbagai bentuk kebijakan saat ini.

Prabowo muda bersama ayah (Sumitro Djojohadikusumo), kakak, ipar, keponakan. Foto: Instagram/@prabowo

Senada dengan itu, Dekan FEB UI, Teguh Dartanto, Ph.D., menyampaikan bahwa gagasan Sumitro tidak hanya kontekstual pada masa lalu, tetapi juga tetap relevan untuk menjawab tantangan ekonomi masa kini dan masa depan. Ia menyoroti kesesuaian ide-ide Sumitro dengan arah kebijakan ekonomi saat ini, seperti hilirisasi sumber daya alam dan proteksionisme terukur.

“Perlu ada ketulusan untuk menggali pemikiran-pemikiran Sumitro guna menemukan solusi nyata bagi kondisi perekonomian saat ini, sebagai modal penting untuk masa depan,” ujar Teguh.

Sementara itu, CEO & Co-Founder Katadata, Metta Dharmasaputra, menjelaskan bahwa simposium ini digagas untuk memperdalam pemahaman publik terhadap arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto—yang dinilai banyak pihak memiliki akar kuat dari warisan pemikiran ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo.

“Yang saat ini menjadi perbincangan dengan segala kontroversinya lebih kepada program-program seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), program tiga juta rumah, sekolah rakyat, hingga Koperasi Merah Putih. Namun, belum ada diskusi mendalam terkait dasar keilmuan dan pendekatan ekonominya,” ujar Metta.

Melalui simposium ini, diharapkan masyarakat dapat kembali menengok nilai-nilai strategis dalam pemikiran Sumitro Djojohadikusumo, dan menjadikannya sebagai referensi dalam merumuskan arah perekonomian Indonesia ke depan.