Strategi Kementan Hadapi Ancaman Kemarau Panjang: Pompanisasi-Jaga Pasokan Pupuk
·waktu baca 2 menit

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan kesiapan menghadapi potensi kemarau panjang pada 2026. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan produksi pangan nasional tetap berada dalam kendali, meski menghadapi dinamika iklim.
“Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah strategis, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan berbasis early warning system, optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, serta pemanfaatan pompanisasi dan perpipaan,” ujar Amran melalui keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (24/4).
Mengacu pada proyeksi iklim, Kementan memperkirakan kemarau pada 2026 berlangsung lebih panjang dengan intensitas yang lebih tinggi. Kondisi tersebut telah diantisipasi sejak awal melalui penguatan sistem mitigasi berbasis wilayah dan percepatan intervensi di lapangan.
Sejumlah wilayah sentra produksi, khususnya di Pulau Jawa, berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air irigasi yang berdampak pada terganggunya pola tanam, penurunan indeks pertanaman, hingga risiko gagal panen.
Merespons kondisi tersebut, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Andi Nur Alam Syah, mengungkapkan Kementan telah mempercepat intervensi di wilayah rawan kekeringan, salah satunya melalui optimalisasi pemanfaatan pompa air dan sumber-sumber air permukaan.
Ia memastikan langkah ini tidak bersifat reaktif, tetapi telah dikoordinasikan sejak awal ke seluruh daerah agar dapat memitigasi kekeringan dengan memetakan wilayah terdampak dan potensi sumber air terdekat.
Andi menegaskan pompanisasi menjadi instrumen kunci dalam menjaga stabilitas produksi saat kemarau, sekaligus menunjukkan skala intervensi pemerintah yang masif dalam beberapa tahun terakhir.
“Optimalisasi pompanisasi menjadi langkah strategis untuk mengamankan produktivitas pertanian di tengah musim kemarau. Dengan dukungan sarana pompa air, petani tetap dapat mengakses sumber air alternatif, sehingga kegiatan budidaya tidak terhenti," terang Andi.
Pada periode 2023 hingga 2025, Kementan telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air ke sebagai bagian dari penguatan sistem mitigasi kekeringan di tingkat lapangan. Pada 2026 ini ditargetkan 11.00 unit pompa air bisa dialokasikan untuk seluruh Indonesia.
Selain penguatan infrastruktur air, Kementan juga memastikan ketersediaan sarana produksi utama tetap terjaga, khususnya pupuk subsidi sebagai faktor kunci dalam menjaga efisiensi biaya usaha tani di tengah tekanan iklim.
“Hingga saat ini ketersediaan pupuk subsidi masih sangat cukup. Per 20 April 2026, dari alokasi sebesar 9,55 juta ton, masih tersedia sekitar 7 juta ton yang dapat dimanfaatkan oleh petani di seluruh Indonesia. Ketersediaan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memberikan keringanan biaya produksi bagi petani,” terang Andi.
Dengan dukungan pupuk subsidi yang terjamin dan intervensi pompanisasi di lapangan, Kementan memastikan tekanan ganda baik dari sisi iklim maupun biaya produksi dapat dikelola secara simultan.
