Kumparan Logo

Strategi Pengusaha Hadapi Pelemahan Rupiah: Tahan Ekspansi hingga Hedging

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pengusaha menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp 17.300 per dolar AS menjadi perhatian serius dan perlu direspons secara terkoordinasi. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di Rp 17.336 per Dolar AS, atau turun sekitar 9 poin atau 0,05 persen per Sabtu (2/5) pukul 14.19 WIB.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyatakan tekanan rupiah ini dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari dinamika global yang lebih luas, termasuk kenaikan yield US Treasury akibat kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat (AS) dan eskalasi konflik geopolitik yang mendorong alokasi modal global ke aset berbasis dolar AS. Kondisi tersebut berdampak pada negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya arus keluar modal atau capital outflow.

“Bagi dunia usaha, situasi ini kami lihat sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri,” ucap Shinta saat dihubungi kumparan, Sabtu (2/5).

Ia menerangkan, depresiasi rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, terutama karena sekitar 70 persen bahan baku manufaktur nasional masih berasal dari luar negeri, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55 persen dalam struktur biaya produksi.

Oleh sebab itu, kenaikan biaya impor tersebut berdampak cepat terhadap biaya input, meskipun tingkat penerusannya ke harga akhir bervariasi tergantung sektor. Industri dengan ketergantungan impor tinggi seperti petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi dinilai paling rentan seperti nafta yang telah mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen.

Chair of B20 Indonesia, Shinta Kamdani , saat forum IAC B20. Foto: Dok. B20

“Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok,” ucap Shinta.

Selain itu, tekanan juga dirasakan dari sisi keuangan korporasi. Penguatan dolar AS meningkatkan beban kewajiban dalam valuta asing, baik untuk pembayaran bunga maupun pokok utang, sehingga memengaruhi pengelolaan arus kas dan meningkatkan profil risiko perusahaan. Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang penyesuaian harga dinilai terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha.

“Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” lanjut Shinta.

Dalam merespons kondisi tersebut, Shinta mengaku melakukan penyesuaian strategi dengan pendekatan yang lebih hati-hati dan berbasis risiko. Strategi selective growth menjadi pilihan, di mana ekspansi tetap dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek permintaan, efisiensi biaya, dan kepastian imbal hasil investasi.

“Sementara itu, investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda,” sebut Shinta.

Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Dari sisi mitigasi, Apindo juga memperkuat manajemen risiko melalui peningkatan penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging, penataan struktur utang yang lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing, serta efisiensi operasional melalui optimalisasi belanja modal, pengelolaan modal kerja, dan peningkatan produktivitas.

“Selain itu, diversifikasi pemasok dan upaya subtitusi impor mulai dilakukan, meskipun kami melihat bahwa kemampuan substitusi domestik saat ini masih terbatas di banyak sektor. Dengan kata lain, ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi,” jelas Shinta.

Ia pun memandang langkah Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen sebagai bentuk kehati-hatian kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar. Stabilitas tersebut dinilai penting sebagai fondasi bagi dunia usaha dalam menjaga operasional dan perencanaan jangka menengah.

Meski begitu, Shinta menilai stabilitas saja belum cukup di tengah tekanan global yang semakin dalam, sehingga diperlukan penguatan koordinasi kebijakan yang lebih solid dan respons yang lebih terkalibrasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan pelaku usaha.

“Ke depan, dalam situasi di mana tekanan eksternal masih cukup kuat dan ruang pelonggaran kebijakan relatif terbatas, sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat krusial,” tuturnya.