Kumparan Logo
Paparan Kinerja PT Taspen (Persero)
Dirut PT Taspen (Persero) Antonius N.S Kosasih (tengah) bersama jajaran Direksi usai menyampaikan Paparan Kinerja PT Taspen (Persero) di Jakarta, Senin (27/1).

Strategi Taspen Agar Tak Bernasib Seperti Jiwasraya

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirut PT Taspen (Persero) Antonius N.S Kosasih (tengah) bersama jajaran Direksi usai menyampaikan Paparan Kinerja PT Taspen (Persero) di Jakarta, Senin (27/1).  Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
zoom-in-whitePerbesar
Dirut PT Taspen (Persero) Antonius N.S Kosasih (tengah) bersama jajaran Direksi usai menyampaikan Paparan Kinerja PT Taspen (Persero) di Jakarta, Senin (27/1). Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

PT Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (Persero) atau Taspen memiliki cara sendiri untuk mengelola dana investasi. Hal itu, berbeda dengan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang didominasi bertumpu pada saham.

Seperti diketahui, Jiwasraya juga mengalami kerugian triliunan rupiah akibat salah penempatan investasi yang justru ke saham-saham ‘gorengan’.

Lantas, bagaimana strategi Taspen?

Direktur Utama Taspen, Antonius Steve Kosasih, membocorkan bahwa sebagian besar portofolio investasi Taspen ditempatkan pada instrumen yang relatif aman.

Mayoritas investasi tersebut ditempatkan pada instrumen yang memberikan hasil tetap (fixed income), yaitu surat utang maupun deposito sebesar 86,2 persen dari total portofolio.

Porsi investasi di surat utang atau obligasi sebesar 67,5 persen, yang mana sebagian besarnya merupakan obligasi pemerintah dan deposito 18,7 persen di mana sebagian besar ditempatkan di bank BUMN.

Ilustrasi taspen. Foto: Instagram @taspen.kita

Adapun sisanya, kata dia, berupa investasi langsung 2,2 persen, saham 4,9 persen, dan reksa dana 6,7 persen di mana reksa dana saham hanya sebesar 1,3 persen, itu pun dengan seleksi pemilihan manager investasi yang ketat.

“Mayoritas investasi Taspen ditempatkan pada surat utang negara maupun obligasi korporasi dengan fundamental yang kuat, dengan tingkat risiko yang sangat rendah namun tetap memberikan imbal hasil yang baik,” tutur Kosasih di Menara Taspen Jakarta, Senin (27/1).

Ia melanjutkan, untuk investasi di saham, Taspen memilih saham-saham emiten yang sebagian sangat besar terdaftar pada Indeks LQ-45 dan didominasi oleh saham-saham BUMN yang tergolong saham-saham blue chip.

“Dalam proses pemilihan saham untuk alokasi investasi, kami selalu mengutamakan aspek makro ekonomi, fundamental, prospek bisnis, likuiditas, dan valuasi perusahaan yang wajar dan seksama serta memperhitungkan pula faktor-faktor teknikal,” terang Kosasih.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan pada instrumen reksa dana, Taspen berinvestasi melalui tak kurang dari 15 Manajer Investasi yang memiliki dana kelolaan (asset under management atau AUM) di atas Rp 4 triliun hingga sekitar Rp 50 triliun.

Ilustrasi Menara Taspen. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Adapun 90 persen di antaranya adalah MI yang menduduki peringkat 15 besar. Selain itu, hampir 50 persen penempatan reksa dana Taspen adalah pada MI BUMN.

“Kami berkomitmen untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian yang kami pegang teguh guna menjamin keamanan dana investasi yang kami kelola untuk memberikan manfaat secara maksimal kepada peserta,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2019, Taspen mencatatkan laba bersih senilai Rp 388,24 miliar. Jumlah itu melonjak dibandingkan laba pada tahun 2018 yaitu Rp 271,55 miliar.

Sementara total pendapatan (revenue) yaitu senilai Rp 19,28 triliun di tahun 2019. Jumlah itu melonjak sebesar Rp 2,75 triliun dibandingkan tahun 2018 yang mencatat pendapatan total Rp 16,53 triliun atau terdongkrak 16,63 persen (yoy).

kumparan post embed