Studi Kelayakan CCS Dimulai, PLTU di Sumut Disiapkan Jadi Contoh Dekarbonisasi
·waktu baca 3 menit

PT PLN Indonesia Power bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) memulai studi kelayakan penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) di PLTU Pangkalan Susu, Sumatera Utara. Studi awal dimulai dengan kunjungan lapangan tim ahli ITB ke PLTU Pangkalan Susu pada 4–6 Agustus 2025.
Kegiatan tersebut mencakup peninjauan fasilitas pembangkit, diskusi teknis, serta pengumpulan data untuk menyusun analisis teknis, keekonomian, operasional, hingga dampak lingkungan dari penerapan CCS.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menegaskan kerja sama dengan ITB merupakan wujud nyata komitmen PLN dalam menghadirkan pembangkit yang lebih bersih dan berkelanjutan.
“Kolaborasi dengan akademisi seperti ITB menjadi kunci percepatan transformasi energi menuju Net Zero Emission. CCS bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga simbol inovasi dan tanggung jawab lingkungan yang kami junjung,” ujar Bernadus dalam keterangannya, dikutip Selasa (19/8).
PLTU Pangkalan Susu dinilai ideal sebagai lokasi percontohan CCS karena perannya yang strategis dalam sistem kelistrikan Sumatera Utara. Pembangkit ini memiliki kapasitas terpasang 2 × 200 MW di atas lahan seluas 105 hektar di Desa Tanjung Pasir, Kabupaten Langkat. Secara total, kompleks Pangkalan Susu mampu menghasilkan listrik hingga 840 MW dari beberapa unit pembangkit yang ada.
Sejak beroperasi penuh, Unit 3 dan 4 (masing-masing 210 MW) bahkan mencatat pasokan rata-rata 118,54 juta kWh per bulan dan telah menyumbang hampir 950 juta kWh hingga awal 2020. Kontribusi tersebut menjadikan Pangkalan Susu salah satu tulang punggung pasokan listrik di Sumatera bagian utara.
Dengan penerapan CCS, emisi karbon dari pembakaran batubara bisa ditangkap dan disimpan tanpa mengurangi keandalan suplai listrik, sehingga menjadi model dekarbonisasi yang relevan untuk pembangkit serupa di Indonesia.
Sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi, PLN Indonesia Power menargetkan mampu menurunkan emisi karbon sebesar 37 juta metrik ton CO₂e hingga 2030. Hal ini didukung pembangunan pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) sebesar 9–14 GW serta implementasi RUPTL 2025–2034, di mana lebih dari 76 persen penambahan kapasitas pembangkit baru berasal dari EBT seperti surya, hidro, angin, panas bumi, bioenergi, hingga penyimpanan energi.
Selain CCS, PLN IP juga tengah mengembangkan inovasi energi bersih seperti pabrik panel surya berteknologi tinggi, perluasan kapasitas PLTS dan panas bumi, serta program keberlanjutan inklusif seperti Hijaunesia dan Hydronesia. Atas inisiatif tersebut, PLN IP meraih ESG Award 2025 sebagai pengakuan atas upaya transisi energi bersih dan berkeadilan.
Hasil studi CCS di PLTU Pangkalan Susu nantinya akan menjadi dasar perencanaan desain teknis, estimasi biaya, serta strategi implementasi jangka panjang. PLN Indonesia Power berharap, pembangkit ini dapat menjadi proyek percontohan dekarbonisasi yang bisa direplikasi di pembangkit batubara lainnya.
Dengan kombinasi CCS dan percepatan pembangunan EBT, PLN Indonesia Power optimistis mampu mempercepat pencapaian target NZE sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.
