Suahasil Kenang Awal Orde Baru, Hiperinflasi 650 Persen Bisa Cepat Diredam

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengatakan Indonesia pernah mengalami hiperinflasi hingga 650 persen pada masa awal rezim Orde Baru. Namun, kondisi itu bisa diredam oleh Menkeu Periode 1966-1968, Frans Seda.
Suahasil mengatakan bahwa meskipun hiperinflasi angka di atas kertas, namun kondisi saat itu banyak masyarakat yang harus antre mencari barang. Pada saat itu, gejolak ekonomi sangat berat, cadangan devisa habis, utang luar negeri sangat masif.
"Tapi dengan tangan dingin beliau, maka inflasi bisa menurun dengan sangat cepat dari 650 persen tahun 1966, 110 persen tahun 1967, 85 persen tahun 1968, dan inilah pondasi yang dibangun," ungkapnya saat Memorial Lecture di Universitas Atmajaya, Kamis (1/10).
Menurutnya, berkat warisan dari Frans Seda, pemerintah memiliki pengalaman asesmen yang cermat untuk mengatasi hiperinflasi.
"Respons perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat dunia usaha dan juga sektor keuangan. Sebagai pemerintah, saya akan terus berusaha menjaga momentum pertumbuhan sekaligus kredibilitas APBN," tutur Suahasil.
Suahasil menuturkan bahwa meskipun masa jabatan yang singkat, Frans Seda berhasil mewariskan struktur APBN yang baik, yang mengamanatkan belanja negara yang kredibel, penerimaan yang diperkuat, sehingga defisit bisa lebih seimbang.
"Beliau mengatakan belanja harus ditangani belanja harus cukup kredibel, penerimaan harus dicari, tapi harus cukup match dengan penerimaan, pendapatan ada defisit tapi kemudian beliau juga membawa banyak sekali luar negeri bicara dengan internasional," tandasnya.
Selain menjabat sebagai Menkeu di awal Orde Baru, Frans Seda juga pernah menjadi Menteri Perkebunan dalam Kabinet Kerja IV (1963-1964) serta Menteri Perhubungan (1968-1973) dalam Kabinet Pembangunan.
