Suasana Pasar Glodok Jelang Pelantikan Presiden

Pusat elektronik Pasar Glodok, Jakarta Barat, tampak sepi pada Jumat (16/10). Di sepanjang jalan yang menghubungkan antar blok ruko hingga dalam pasar pun, tak begitu padat aktivitas pembeli.
Para pedagang mengungkap situasi lengang itu, tak terlepas dari momen jelang pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2019. Menurut mereka, banyak pembeli yang sementara menahan belanja sebagai bentuk kewaspadaan.
"Konsumen sepi, ya, lihat situasi juga kan takutnya gimana-gimana gitu juga. Tahun-tahun sebelumnya biasanya juga gitu, pokoknya di momen-momen tertentu biasanya sepi, kayak pemilu. Agak rawan ricuh," ujar Yadian (40) ketika ditemui kumparan di Ruko Blok B Pasar Glodok, Jakarta Barat, Jumat (18/10).
Yadian menceritakan, kondisi yang relatif sepi ini terjadi sejak beberapa hari ini. Ia memprediksi, kondisinya baru bisa kembali normal setelah momen pelantikan itu dirasa aman.
Di situasi saat ini, ia menambahkan, omzetnya kian merosot. Jika dari dagangan aneka kebutuhan bangunan dan listrik itu, ia bisa mengantongi nyaris Rp 1 juta per hari. Kini, ia mesti berbesar hati hanya sanggup mendapat ratusan ribu rupiah.
"Turun setengahnyalah, sekitaran," kata dia.
Yadian juga tak menampik, situasi Pasar Glodok beberapa tahun ke belakang ini juga pembelinya kian menyusut. Penjualan online dan kurangnya adaptasi pedagang, ia sebut sebagai faktor yang cukup signifikan memangkas pangsa pasarnya.
Hal senada juga dirasakan pedagang lainnya, Titik (55). Perempuan asal Kuningan, Jawa Barat, itu juga merasakan dampak sepinya kawasan Pasar Glodok baru-baru ini.
"Biasanya mau Jumatan gini kan ramai, sekarang mana, sepi. Mudah-mudahan keadaan aman, ya. Dari kemarin agak sepi. Kalau ibu mah orang kecil, mau siapa pun yang jadi pemimpin yang penting aman," tuturnya.
Titik yang sehari-hari berjualan ayam geprek itu juga mengaku dagangannya kian menurun pembelinya. Sebab, para pembeli di Glodok sepi, maka tempat makan seperti yang ia miliki pun terdampak.
"Menurun. Kalau masalah dagang enggak bisa diprediksi sih. Turunnya bisa sampai Rp 2 juta. Kalau normal omzet Rp 5 juta. Sekarang mah jauh. Kita jalani apa adanya," imbuhnya.
Selain mengharapkan pihaknya bisa mengikuti perkembangan teknologi dengan mulai menggandeng aplikasi online untuk menjajakan makanan, ia pun berharap situasi perekonomian nasional makin baik setelah terpilihnya pemimpin baru.
Sehingga, kata dia, hal itu juga bakal bisa berimbas pada situasi kondusif di tengah masyarakat. Glodok bisa kembali diminati.
"Intinya pengamanan, ya, dikondusifkan lagi biar konsumen aman," harapnya.
