Sudah Ada Investor Tertarik, RI Siap Bangun Pembangkit Listrik Nuklir

26 Maret 2024 14:14 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi pembangkit tenaga nuklir. Foto: PixelRaid/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembangkit tenaga nuklir. Foto: PixelRaid/Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan Indonesia akan mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Sudah ada beberapa negara tertarik berinvestasi di proyek tersebut.
ADVERTISEMENT
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan saat ini struktur organisasi nuklir atau Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) sedang disusun.
Eniya memastikan bauran energi nuklir sudah masuk dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) sebagai energi baru.
"Struktur ini harus ada yang nantinya jadi badan pelaksanaan nuklir. Sementara RUKN-nya di bauran energi nuklir sudah masuk juga," ungkap Eniya saat ditemui di kompleks parlemen, Senin (25/3).
Eniya mengungkapkan beberapa perusahaan yang sudah berkomitmen investasinya yaitu ThorCon International Pte Ltd yang akan membangun PLTN skala kecil atau Small Modular Reactor (SMR), serta ada investor dari Rusia.
"Ada beberapa setau saya sudah ada Thorcon menginisiasi tipe SMR, terus yang Rusia. Jadi ada beberapa yang sudah mulai masuk tapi kita pastikan dulu organisasinya," ujar Eniya.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, Kementerian ESDM mencanangkan PLTN pertama di Indonesia bisa beroperasi secara komersial di tahun 2032, sebagai alternatif energi baru dan terbarukan (EBT) bersifat baseload.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P Hutajulu, menargetkan kapasitas PLTB bisa meningkat hingga 9 gigawatt (GW) pada 2060.
"Pengembangan tenaga nuklir direncanakan menjadi komersial pada tahun 2032, untuk meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik. Kapasitasnya akan ditingkatkan hingga 9 GW pada 2060," jelasnya saat rapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (15/11).
Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo tengah menggodok revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2024-2033, dengan 75 persen penambahan pembangkit berbasis EBT dan 25 persen berbasis gas.
Skenario yang disepakati untuk revisi RUPTL ini yakni accelerated renewable energy development with coal phase down. Penambahan pembangkit EBT 75 persen pada tahun 2033 setara dengan kapasitas 31,6 GW.
ADVERTISEMENT
Rinciannya, penambahan pembangkit EBT bersifat baseload sebesar 31 GW, EBT bersifat intermiten yaitu variabel angin dan solar sekitar 28 GW, kemudian ada energi baru alias nuklir sebesar 2,4 GW dan bisa bertambah menjadi 5-6 GW.
"Kemudian ada energi baru, di sini kalau Pak Jisman langsung melontarkan nuklir, tapi kami sebutnya energi baru, ada 2,4 GW bisa naik menjadi 5-6 GW," tutur Darmawan.