Kumparan Logo

Suku Bunga Acuan Jepang Tetap 1%, BoJ Buka Peluang Naikkan di Bulan Depan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ilustrasi Bank of Japan. Foto: Poetra.RH/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi Bank of Japan. Foto: Poetra.RH/Shutterstock

Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya pada level 1 persen pada Jumat (31/7), sesuai ekspektasi pasar.

Mengutip Bloomberg pada Jumat (31/7), keputusan diambil sehari setelah otoritas Jepang diduga melakukan intervensi di pasar mata uang dengan dukungan Amerika Serikat (AS), yang sempat mendorong yen menguat hingga 3,3 persen terhadap dolar AS dalam perdagangan di New York.

Meski demikian, setelah keputusan BOJ diumumkan, yen kembali melemah tipis. Pelaku pasar kini menanti konferensi pers Gubernur BOJ Kazuo Ueda pada pukul 15.30 waktu Tokyo untuk mencari petunjuk mengenai arah kenaikan suku bunga berikutnya.

Dalam rapat tersebut, hanya satu dari sembilan anggota dewan, yakni Hajime Takata, yang mendukung kenaikan suku bunga lanjutan. Jika disetujui, langkah itu akan menjadi kenaikan beruntun pertama dalam beberapa dekade.

Presiden SBI FX Trade, Marito Ueda, menilai langkah pemerintah mengintervensi pasar sebelum rapat BOJ merupakan sebuah pertaruhan.

"Ini bisa dikatakan sebagai sebuah pertaruhan yang diperhitungkan. Meski demikian, tren fundamental berupa pelemahan yen dan penguatan dolar AS masih tetap berlanjut," ujarnya.

Ilustrasi mata uang Yen. Foto: Shutterstock

BOJ juga menyebut tekanan inflasi inti masih berpotensi melampaui target 2 persen, sehingga bank sentral tetap membuka ruang untuk menaikkan biaya pinjaman secara bertahap.

Ekonom Meiji Yasuda Research Institute, Yuichi Kodama, mengatakan peluang kenaikan suku bunga kini semakin besar.

"Karena kini sudah dapat dipastikan inflasi akan terus meningkat, saya rasa mulai pertemuan September setiap rapat akan menjadi pertemuan yang 'hidup', di mana kenaikan suku bunga bisa terjadi kapan saja," kata Yuichi.

Selain itu, BOJ memperbaiki penilaiannya terhadap prospek ekonomi dengan menyebut risiko terhadap pertumbuhan kini berimbang, tidak lagi condong ke sisi penurunan.

Hal itu mengindikasikan dampak konflik Timur Tengah tidak separah yang sebelumnya dikhawatirkan, terutama karena permintaan global terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) membantu menopang aktivitas ekonomi Jepang.

Dalam proyeksi ekonomi terbaru, BOJ mempertahankan estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun fiskal ini di 0,6 persen, sementara proyeksi inflasi direvisi turun menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,8 persen, seiring dampak subsidi pemerintah.

Intervensi pemerintah pada Kamis malam (30/7) sempat mengangkat nilai tukar yen hingga 3,3 persen terhadap dolar AS. Meski demikian, pejabat Jepang belum mengkonfirmasi secara resmi adanya intervensi tersebut.

Birokrat senior urusan mata uang Jepang, Atsushi Mimura, hanya menyatakan Jepang memperoleh lebih dari sekadar dukungan moral dari AS.

Yuichi melanjutkan, apabila efek intervensi tidak bertahan dan yen kembali melemah hingga melampaui ¥160 per dolar AS, spekulasi mengenai kenaikan suku bunga BOJ akan semakin menguat.

"Jika dampak intervensi tidak bertahan dan yen kembali melemah di atas ¥160 per dolar AS, pandangan bahwa kini giliran BOJ untuk bertindak kemungkinan akan memicu spekulasi kenaikan suku bunga,” lanjut dia.