Suku Bunga BI Dekati Puncak, Obligasi Jadi Pilihan Investasi Menarik

Obligasi pemerintah hingga korporasi termasuk reksadana pendapatan tetap dinilai menjadi instrumen investasi yang menarik saat ini, terutama di tengah suku bunga atau BI Rate yang berpotensi naik.
WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga Lanjar Nafi menilai instrumen tersebut memiliki tingkat risiko menengah, dengan imbal hasil yang turut dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga. Di sisi lain, ia menilai deposito dan reksa dana pasar uang berada dalam posisi underweight dibandingkan instrumen pendapatan tetap.
“Ini biasanya liquid dan resiko yang sangat rendah, tapi return nya stabil dan terbatas, karena ini kan dia di deposito,” jelas Lanjar dalam Kelas Jurnalisme Wealth XPO CIMB Niaga di Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Rabu (26/8).
Ia melanjutkan, meskipun imbal hasilnya masih relatif tinggi, ia menilai tingkat pengembaliannya berpotensi tertahan karena BI Rate mulai mendekati puncak dibandingkan instrumen pendapatan tetap.
Kemudian katanya ketika suku bunga berada pada level tinggi, imbal hasil obligasi juga cenderung meningkat. Namun, ketika suku bunga mulai melandai dan turun, harga obligasi berpotensi naik sehingga investor yang masuk saat ini masih dapat memperoleh harga yang relatif murah.
“Karena BI Rate ini masih berpeluang naik, namun dengan tendensi yang melambat. Artinya imbal hasil obligasi itu sudah mulai berada di puncak,” ucap Lanjar.
Kata Lanjar, kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi dinilai mulai berada di level puncak sehingga menjadi peluang bagi investor yang ingin berinvestasi pada instrumen tersebut.
“Kalau tingkat suku bunga lagi tinggi, imbal hasilnya tinggi, ya, di saat suku bunga sudah mulai melandai dan turun, harga obligasinya naik, dan kita masih mendapatkan harga yang relatif murah kalau kita entry saat ini,” imbuhnya.
