Kumparan Logo

Sulitnya Memupus Stigma Kebun Sawit Perusak Hutan

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menebang pohon kelapa sawit (Foto: AFP PHOTO / CHAIDEER MAHYUDDIN)
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menebang pohon kelapa sawit (Foto: AFP PHOTO / CHAIDEER MAHYUDDIN)

Indonesia tengah berupaya keras melobi Uni Eropa, untuk tetap membuka pintu kawasan itu bagi produk sawit dan aneka turunannya asal Indonesia. Indonesia sangat berkepentingan dengan kawasan ini, karena merupakan importir kedua terbesar minyak sawit Indonesia, setelah India.

Namun tak mudah memupus stigma buruk kebun sawit, sebagai perusak hutan Indonesia. The Guardian edisi onlina pada Kamis (10/5) misalnya, menayangkan kolom opini tulisan aktivis lingkungan Chris Packham. Judulnya sangat menyengat, “Palm oil producers are wiping out orangutans – despite multinationals’ promises.”

Packham yang juga seorang penulis dan presenter program lingkungan di BBC, menyebut industri kayu dan perkebunan sawit sebagai pemicu punahnya orangutan. “Mereka (orangutan) pernah berkembang di hutan hujan Indonesia yang subur . Tapi dalam 50 tahun terakhir, orangutan dipaksa keluar dari habitatnya, mereka dibunuh,” tulis Packham.

Dia mengungkapkan, dalam 16 tahun terakhir saja 100.000 orangutan Kalimantan telah hilang. Industri sawit, lanjutnya, berkembang pesat untuk memenuhi permintaan global minyak sawit yang meningkat enam kali lipat sejak tahun 1990. Dari beragam produk yang ada di supermarket, dalam hitungan dia, separuhnya mengandung sawit dan beragam produk turunannya.

Packham bahkan menyebut Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) telah gagal mengontrol industri sawit. RSPO yang dibentuk pada 2004, diberi mandat untuk memastikan hanya perusahaan sawit yang tak merusak hutan yang dapat memperdagangkan produknya.

Evakuasi Orangutan di Rawa Tripa, Aceh (Foto: AP Photo/Binsar Bakkara)
zoom-in-whitePerbesar
Evakuasi Orangutan di Rawa Tripa, Aceh (Foto: AP Photo/Binsar Bakkara)

Kampanye negatif sawit pada aspek kesehatan dan nilai ekonomi, mungkin sudah bisa diatasi dengan berbagai tandingan edukasi, yang digalakkan Indonesia dan juga Malaysia sebagai dua negara produsen sawit terbesar di dunia. Namun masih banyak PR bagi industri sawit Indonesia, terkait aspek lingkungan ini.

embed from external kumparan

Apalagi data resmi pemerintah Indonesia sendiri menunjukkan, angka deforestasi dari tahun ke tahun memang naik. Pada sisi lain, Uni Eropa sendiri sebenarnya tak bisa mengabaikan sama sekali pemenuhan produk sawit dan turunannya.

Hal ini ditunjukkan dari pernyataan Ketua komite urusan luar negeri Parlemen Uni Eropa, David McCallister, usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Rabu (9/5) lalu. “Kami sebagai konsumen terbesar, kami ingin membeli minyak sawit yang berkesinambungan. Untuk menemukan kesinambungan, (harus ada) standar sertifikasi yang kredibel dan bisa diterima oleh semua stakeholder," katanya.

Apalagi Indonesia juga sudah menebar ancaman, akan menyetop impor berbagai produk Eropa termasuk pesawat Airbus, jika sampai mereka melarang impor produk sawit Indonesia. Pengembangan industri sawit yang “berkesinambungan”, seperti yang disinggung McCallister, sesungguhnya menjadi kunci. Karena hal itu juga akan membawa kebaikan bagi Indonesia secara jangka panjang.