Sungai di Kaltim Surut Imbas El Nino, Pasokan Batu Bara RI Terganggu

Kementerian ESDM menyebut pasokan batu bara dari Kalimantan Timur (Kaltim) terganggu akibat kekeringan imbas fenomena el nino membuat permukaan sungai surut.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, membenarkan disrupsi pasokan batu bara tersebut diakibatkan oleh gangguan jalur logistik di sungai yang menyusut, bukan karena pembatasan produksi.
"Bukan karena dibatasi produksinya karena air untuk ngalirin tongkangnya enggak ada air," ungkapnya saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Rabu (2/9).
Yuliot mengaku sudah mengecek kondisi pasokan batu bara di Kaltim, memang imbas sungai yang mengering. Sungai menjadi salah satu jalur logistik penting di wilayah Kalimantan.
"Itu ya saya cek itu kemarin di Kalimantan Timur. Ya justru, ya karena sungainya mengering, tongkangnya enggak bisa jalan," tegas Yuliot.
Sebelumnya, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, meminta masyarakat menghemat penggunaan air bersih menyusul penyusutan debit Sungai Mahakam dan meningkatnya kadar klorida di air akibat kemarau panjang.
Andi Harun menegaskan, kondisi Sungai Mahakam yang menyusut turut mempengaruhi operasional sejumlah fasilitas penyadapan (intake) air bersih di wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan dan Bantuas.
Selain penurunan debit air, peningkatan kadar klorida menjadi faktor krusial karena berkaitan langsung dengan kualitas dan kelayakan air yang didistribusikan kepada masyarakat.
"Kalau kadar klorida sudah melewati batas 250 ppm, operasional harus dihentikan karena ini menyangkut standar kesehatan air bersih," kata Andi Harun, dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut masih fluktuatif mengikuti pasang surut Sungai Mahakam. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan serta menggunakan air secara bijak.
"Pemkot Samarinda terus memantau situasi agar pelayanan air bersih tetap berjalan dan penghentian operasional intake tidak berlangsung lama," kata Andi.
Saat ini, Pemkot Samarinda telah menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau yang perkembangannya dinilai sangat cepat. Menurut dia, Samarinda memiliki empat tingkat kerawanan, yakni normal, waspada, siaga dan kritis.
