Kumparan Logo

Sungai Mahakam Kering Jadi Perhatian Khusus Kementerian PU

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, di Kompleks DPR RI, Jakarta, Selasa (2/12/202). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, di Kompleks DPR RI, Jakarta, Selasa (2/12/202). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) buka suara terkait keringnya Sungai Mahakam di Kalimantan Timur (Kaltim) yang berpotensi mengganggu arus logistik. Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, mengatakan kondisi Sungai Mahakam saat ini menjadi perhatian khusus.

Kementerian PU melalui BWS Kalimantan IV terus melakukan pemantauan terhadap kondisi Tinggi Muka Air (TMA) di sejumlah Pos Duga Air di Kaltim.

"Berdasarkan data per 31 Agustus 2026, beberapa titik di bagian hulu dan tengah Sungai Mahakam menunjukkan Tinggi Muka Air yang sangat rendah, bahkan pada beberapa lokasi berada di bawah rentang Tinggi Muka Air normal dan mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," jelas Diana kepada kumparan, Kamis (3/9).

Diana mencontohkan, saat ini penuruan TMA paling rendah terjadi di Pos Duga Air Long Iram, TMA tercatat 0 meter, Ujoh Bilang 0,07 meter, Pela 0,06 meter, Kota Bangun 0,12 meter, dan Muara Kaman 1,48 meter.

Diana mengatakan salah satu yang perlu diantisipasi adalah dampaknya terhadap aktivitas masyarakat. Penurunan TMA dapat menyebabkan kedalaman alur sungai semakin dangkal, sehingga berpotensi memengaruhi kelancaran transportasi sungai.

"Ini menjadi penting karena Sungai Mahakam masih memiliki fungsi strategis sebagai jalur transportasi dan distribusi logistik, terutama untuk wilayah Mahakam Ulu," tutur Diana.

Dampak ke Pasokan Energi

Kondisi terkini sungai mahakam di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Foto: Dok. Istimewa

Diana membenarkan bahwa angkutan komoditas energi, seperti BBM dan batu bara, secara prinsipnya dapat terpengaruh oleh penurunan muka air dan pendangkalan alur yang mendisrupsi operasional transportasi sungai.

Hanya saja, lanjut dia, untuk menyampaikan sejauh mana pengaruhnya terhadap kapasitas angkutan atau volume distribusi batu bara dan BBM, pemerintah perlu melihat data operasional dan kondisi masing-masing alur serta berkoordinasi dengan instansi dan pihak terkait.

"Kami tidak ingin menyimpulkan lebih jauh hanya berdasarkan data Tinggi Muka Air, yang saat ini dapat kami pastikan dari sisi Kementerian PU adalah bahwa beberapa titik memang menunjukkan Tinggi Muka Air yang sangat rendah, dan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena berpotensi mengganggu transportasi sungai dan distribusi logistik," tegas Diana.

Diana menekankan pemantauan tetap dilakukan oleh Kementerian PU, terutama untuk memastikan mobilitas masyarakat di sekitar Sungai Mahakam tetap terjaga.

"Kami terus melakukan pemantauan dan meminta teman-teman BWS Kalimantan IV untuk melihat kondisi aktual di lapangan, khususnya pada jalur-jalur yang memiliki fungsi penting bagi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di Kalimantan Timur agar tetap terjaga," tutur Diana.

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan pemerintah tidak membatasi produksi batu bara. Disrupsi pasokan diakibatkan surutnya sungai-sungai besar di Kaltim.

"Bukan karena dibatasi produksinya karena air untuk ngalirin tongkangnya enggak ada air," ungkapnya saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Rabu (3/9).

Sungai memang menjadi salah satu jalur logistik penting di wilayah Kalimantan. Setelah mengecek kondisi pasokan batu bara di Kaltim, Yuliot membenarkan bahwa tongkang-tongkang untuk sementara tidak bisa melewati sungai yang mengering.

"Itu ya saya cek itu kemarin di Kalimantan Timur. Ya justru, ya karena sungainya mengering, tongkangnya enggak bisa jalan," tegas Yuliot.

Kekeringan sungai di Kalimantan tak hanya berdampak pada mobilitas angkutan batu bara. Kementerian ESDM juga mengidentifikasi kelangkaan BBM yang terjadi di Kalimantan disebabkan oleh sungai yang surut, sehingga menjadi kendala bagi kapal distribusi energi.

“Di Kalimantan ini banyak terjadi. Saat ini, sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).

Laode menyampaikan permasalahan tersebut telah dimitigasi dengan memperbanyak truk-truk pengiriman BBM yang menggunakan jalur darat. Akan tetapi, volume angkut truk pengiriman BBM tidak sebesar angkutan sungai.