kumparan
19 Sep 2019 13:11 WIB

Susi: Tuna Asal China Menghilang dari Pasar AS, Peluang Ekspor Bagi RI

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyampaikan pencapaian kinerja dan pengawasan Laut Natuna Utara di Jakarta, Senin (9/9). Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menghadiri penutupan rapat koordinasi nasional Satgas 115 di Kantor Pusat KKP hari ini.
ADVERTISEMENT
Dalam sambutannya, Susi membeberkan bahwa saat ini sebanyak 14 ribu metrik ton tuna loin asal China telah hilang dari pasar Amerika Serikat (AS). Hal ini lantaran adanya perang dagang antara AS dan China yang membuat tarif bea masuk tuna loin asal China dipatok tinggi.
“Tadi malam saya dapat kiriman artikel kalau 14 ribu metrik ton tuna loin asal China di pasar Amerika menghilang. Karena Amerika enforce tarif produk China lebih dari 250 persen, maka hilang lah suplai,” katanya saat ditemui di Gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta, Kamis (19/9).
Petugas Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Padang memeriksa ikan tuna yang baru dibongkar dari kapal, di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, Padang, Sumatera Barat, Senin (23/7). Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Karena itu, dia meminta agar kondisi ini dimanfaatkan oleh pengusaha tuna di Indonesia. Namun, Susi mewanti-wanti agar para pengusaha tidak menjual dokumen ke Amerika seperti kejadian di tahun 2001-2004 lalu.
ADVERTISEMENT
Dia bercerita, kala itu ada 7 negara yang dikenakan tarif bea masuk tinggi terhadap produk udang ke AS. Tak tanggung-tanggung, tarif bea masuk yang dikenakan pun hampir mencapai 100 persen.
Namun, produk udang Indonesia justru hanya dikenakan bea masuk sebesar 12 persen. Hal ini lantas banyak digunakan para pengusaha untuk menjual dokumen saja. Dengan penjualan dokumen, produk udang asal China, Thailand, dan Vietnam dilabeli sebagai produk Indonesia. Kemudian, diekspor ke Amerika.
Pekerja mengangkat Ikan tuna hasil tangkapan nelayan ke dalam truk di Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (4/7). Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Kejadian ini, tutur Susi, lantas membuat Amerika marah dan mengancam akan lakukan embargo udang Indonesia. “Jadi ada kesempatan untuk opportunity bukan dipakai untuk meningkatkan produksi pertambakan udang kita, tapi malah ambil jalan pintas jualan dokumen,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Dengan hanya menjual dokumen saja, Indonesia disebut tidak akan mendapat keuntungan apapun. Untuk itu, dia meminta agar Badan Karantina KKP dan Kepolisian Air dan Udara untuk membantu memastikan impor tuna dari China tidak diekspor ulang ke AS.
“Karena sama aja bohong, bukan kita lagi, kita hanya dapat stempel saja dan perusahaan Indonesia dapat komisi 10 persen per kilogram (kg). Kita kan ingin produksi meningkat supaya bisa memperkerjakan banyak orang kita,” tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan