Kumparan Logo

Tak Ada Investasi yang Aman Saat Pandemi, Berikut Tips Jadi Pahlawan Finansial

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi investasi masa tua. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi investasi masa tua. Foto: Shutter Stock

Wabah pandemi corona yang belum tahu kapan berakhir membuat ekonomi dunia menjadi terguncang. Ekonomi Indonesia pun resmi masuk jurang resesi pada kuartal III 2020.

Lesunya ekonomi membuat keuangan masyarakat melemah. Banyak yang pendapatannya berkurang bahkan kehilangan pekerjaan alias kena PHK. Tapi, hidup harus berlanjut.

Financial Trainer QM Financial, Emiralda Noviarti mengatakan, situasi yang serba sulit ini memaksa orang harus beradaptasi, termasuk menyesuaikan diri dengan pos keuangan mereka agar menjadi pahlawan finansial. Caranya?

Pertama, cek pintu penghasilan apakah terganggu atau justru normal. Situasi menjadi berbahaya jika pemasukan berkurang atau tidak ada sama sekali. Jika pendapatan mulai tidak pasti dari pekerjaan utama, maka tips kedua bisa disiasati dengan membuka usaha sampingan.

Usaha sampingan bisa berupa apa saja dengan memanfaatkan media sosial. Momentum ini pas karena banyak orang yang di rumah, jadi bisa menyediakan jasa untuk diantar ke rumah.

"Sekarang cari pintu penghasilan lainnya. Mungkin kita punya kemampuan masak, menulis, atau lainnya yang kreatif di samping gaji kita sebagai karyawan. Selagi ini enggak mengganggu pekerjaan utama, bisa dilakukan," ujarnya dalam diskusi virtual 'Menjadi Pahlawan Finansial Keluarga: Mencari Peluang di Tengah Resesi', Senin (9/11).

Ketiga, atur ulang pengeluaran bulanan. Kata dia, di QM Financial, idealnya pos pengeluaran sebelum pandemi berupa biaya hidup 40-60 persen dari gaji atau pendapatan, cicilan utang maksimal 30 persen, tabungan dan investasi minimal 10 persen, sosial 2,5 persen, dan lifestyle maksimal 20 persen.

Tapi, karena saat ini keadaan serba sulit, dari pos pengeluaran itu bisa diatur ulang. Misalnya mengurangi biaya lifestyle karena semua orang berkegiatan di rumah.

Ilustrasi investasi untuk perempuan. Foto: Shutterstock

Keempat, amankan dana darurat. Dana ini penting karena sebagai biaya hidup saat tidak ada pendapatan yang masuk. Emi menjelaskan, secara teori, dana darurat yang perlu dikumpulkan bagi mereka yang masih lajang setara 4 kali gaji. Bagi pasangan menikah dan tanpa anak sebanyak 6 kali gaji, bagi keluarga dengan 1 anak setara 9 kali gaji, dan bagi keluarga dengan 2 anak atau lebih setara 12 kali gaji.

Kelima, periksa asuransi dan investasi. Proteksi asuransi perlu dilakukan karena ketika kena PHK, fasilitas asuransi dari tempat bekerja sudah tidak bisa digunakan lagi. Sedangkan investasi, perlu ditinjau lagi sesuai kebutuhan dan tujuan.

Tidak Ada Produk Investasi yang Aman Saat Pandemi

Founder dan Lead Financial Trainer QM Financial Ligwina Hananto mengatakan, dana darurat yang mau dikumpulkan bisa melalui berbagai produk investasi. Tapi, menurut dia tidak ada produk investasi yang aman saat pandemi atau pun di saat ekonomi sedang menggeliat.

Menurut dia, setiap investasi memiliki risiko, artinya tidak ada yang aman. Hanya saja, risiko tiap produk investasi berbeda, ada yang ringan dan tinggi. Karena itu, saat ingin berinvestasi, menurut dia bukan fokus pada produk investasi mana yang aman, melainkan apa tujuan dari investasi tersebut.

"Di QM Financial ini adalah filosofinya 'tujuan Lo apa?' Kalau mau fokus, harus ke tujuan finansialnya, bukan kepada produknya. Jadi harusnya yang ditanyakan adalah tujuan apa yang jadi prioritas di saat pandemi? Maka jawabannya akan dana darurat. Lalu baru deh produk apa yang bisa dipakai untuk dana darurat?" kata Ligwina.

Beberapa produk investasi yang risikonya rendah dan cocok untuk sebagai tempat untuk mengumpulkan dana darurat, menurut Ligwina, di antaranya tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, dan emas logam mulai. Keempat ini memiliki risiko, bahkan menabung di bank sekalipun. Tapi bisa tingkat risikonya berbeda.

"Jadi mari perhatikan fokusnya jangan ke produk, tapi ke tujuan finansial," ujarnya.