Tak Ada Stok Gula Rafinasi, Pengusaha Bakpia hingga Dodol Gulung Tikar

31 Januari 2020 10:50 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi gula Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gula Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengeluhkan tak mendapatkan gula rafinasi untuk bahan baku industri. Hal ini pun berdampak pada bisnis mereka.
ADVERTISEMENT
Ketua Asosiasi IKM Agro (Aikma) Suyono mengatakan, pasokan gula rafinasi ke IKM sudah berhenti sejak pertengahan Desember 2019. Padahal menurutnya, ada setidaknya 250.000 IKM yang menggantungkan produksi dari ketersediaan gula rafinasi.
"Sejak pertengahan Desember 2019 sudah tidak ada lagi pasokan gula rafinasi ke IKM melalui koperasi yang resmi. Kebutuhan IKM di Koperasi Koritan saya misalnya, sekitar 10.000 ton per bulan. Kalau dengan koperasi-koperasi lain totalnya 20.000 ton per bulan, itu untuk tujuh koperasi, dengan pelaku IKM lebih dari 250.000 IKM," kata Suyono melalui pesan singkatnya kepada kumparan, Jumat (31/1).
Pekerja membuat bakpia, kue kas Yogyakarta. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Menurut dia, sejumlah IKM terpaksa menghentikan sementara produksinya akibat tak adanya pasokan gula rafinasi. Bahkan ada yang menutup usahanya lantaran belum mendapat kepastian stok gula rafinasi.
ADVERTISEMENT
"Ini sudah 90 persen IKM tutup. Kami IKM sudah menjerit sejak sebulan lalu. IKM yang berbasis gula rafinasi sudah berhenti produksi," lanjutnya.
Suyono mencontohkan, sejumlah IKM yang terpaksa berhenti produksi antara lain IKM dodol Garut, IKM kue semprong bolu di Ciamis dan Tasikmalaya, IKM kue basah di Bandung, IKM manisan di Sukabumi, hingga IKM bakpia di Yogyakarta dan Semarang.
"Ada IKM bandrek, bajigur, gula merah, dodol. IKM bakpia di Yogyakarta dan Semarang juga berhenti, karena biasanya mereka dapat 100 ton per bulan, sekarang sudah berhenti produksi. Gula batu di Boyolali dan Cirebon sudah berhenti produksi. Pabrik sirup juga di Sulawesi Selatan juga sudah tutup," katanya.
Selain itu, Suyono jug menuturkan, sejumlah IKM terpaksa tidak bisa membayar cicilan ke bank karena tak adanya pendapatan. Kerugian akibat tak adanya gula rafinasi di IKM dia perkirakan hingga ratusan miliar rupiah.
ADVERTISEMENT
"Kerugian sudah sangat besar, estimasinya sampai ratusan miliar. IKM sudah susah makan, utang ke bank tidak bisa terbayar, sangat besar kerugian IKM, cicilan mobil untuk operasional pengiriman barang sudah tidak terbayar,” keluh Suyono.
Suyono berharap, pemerintah segera mengambil langkah agar gula rafinasi ini bisa segera masuk ke IKM. Jika tidak, katanya, kebutuhan produk makanan dan minuman saat Ramadhan dan Lebaran tahun ini tidak akan terpenuhi.
"Harapannya pemerintah cepat beri kuota impor untuk gula rafinasi segera diturunkan. Agar pabrik gula rafinasi segera produksi. Ini sudah mau bulan puasa, kalau tidak ada gula rafinasi, Jakarta akan didemo oleh IKM-IKM seluruh Indonesia," tambahnya.
Olahan mangga Foto: Shutterstock
Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengungkapkan, stok gula makin menipis dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam dua pekan ke depan. Padahal, kebutuhan gula untuk industri makanan dan minuman meningkat, untuk antisipasi Ramadhan dan Lebaran 2020.
ADVERTISEMENT
Pihaknya pun khawatir stok gula makin menipis menjelang bulan puasa. Industri makanan dan minuman mendapat info dari Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), sebagian sudah setop supply.
"Padahal sisa stok gula biasa yang ada hanya dapat mencukupi hingga dua pekan ke depan. Apabila tidak ada pasokan gula, industri makanan dan minuman (mamin) akan terdampak dan berhenti produksi," katanya melalui pernyataan resmi, Kamis (30/1).