Kumparan Logo

Tak Ada yang Tahu Kapan Perang Berakhir, Pemerintah Evaluasi Terus Harga BBM

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026, Selasa (5/5/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026, Selasa (5/5/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Pemerintah memastikan terus memonitor harga minyak mentah global yang berpengaruh pada harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Kondisi yang dinamis ini akan diantisipasi hingga akhir tahun.

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan realisasi rata-rata pembelian minyak mentah belum mencapai USD 100 per barel. Pemerintah telah memprediksi rentang harganya bisa mencapai USD 120 per barel.

Proyeksi tersebut tentu saja berada di atas asumsi makro dalam APBN 2026, yakni USD 70 per barel untuk Indonesian Crude Price (ICP). Namun, Airlangga memastikan bahwa pemerintah sudah mengantisipasi skenario terburuk.

"BBM kita masih monitor, karena kalau sampai sekarang kita realisasi pembeliannya (minyak mentah) tidak USD 100, jadikan kita ada harga rata-rata pembelian sehingga tentu kita akan terus monitor," ungkapnya saat konferensi pers, Selasa (5/5).

Airlangga melanjutkan, pemerintah juga sambil memonitor dinamika perang AS-Israel dengan Iran di yang tidak bisa diprediksi siapa pun.

"Kelihatannya di range harga itu USD 90 sampai 120, sesudah itu dia turun lagi ke USD 100, nah ini tetap kita harus monitor karena tidak banyak yang tahu termasuk yang sedang berperang pun tak tahu," tegasnya.

Pemerintah juga akan menerapkan skenario yang dinamis mengikuti perkembangan terkini di Iran, bahkan hingga akhir tahun 2026.

"Kita punya skenario untuk menjaga dan skenario ini sifatnya dinamis, jadi tidak berarti bahwa kalau ini kita patok sampai akhir tahun tidak, tapi kita lihat apa yang terjadi secara dinamis dan kita mitigasi secara dinamis," kata Airlangga.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan bahwa pemerintah menahan harga BBM subsidi hingga akhir tahun 2026 meski dibayangi ketidakpastian harga minyak global akibat perang AS-Israel terhadap Iran yang masih berlangsung hingga hari ini.

Update harga BBM di SPBU BP Tanjung Barat, Minggu (19/4/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Purbaya menjelaskan, pemerintah telah melakukan berbagai simulasi terhadap lonjakan harga minyak dunia. Mulai dari skenario harga USD 80 hingga USD 100 per barel, seluruhnya sudah dihitung dampaknya terhadap APBN, termasuk langkah mitigasinya.

“Jadi sepanjang tahun ini dengan harga rata-rata USD 100, aman. Terus kalau ada orang yang bilang Purbaya nggak punya uang, Menteri Keuangan nggak punya uang, kita dari desain anggaran aja masih di bawah 3 persen,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja Komisi XI, Senin (6/4).

Ia menekankan, dengan asumsi harga minyak dunia mencapai USD 100 per barel sepanjang 2026, defisit anggaran masih bisa dijaga di level 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Artinya, ruang fiskal pemerintah dinilai masih memadai untuk menjaga stabilitas, termasuk menahan harga BBM subsidi.

Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan langkah cadangan apabila terjadi lonjakan harga yang lebih tinggi dari asumsi. Salah satunya dengan memanfaatkan saldo anggaran lebih (SAL) untuk menjaga keberlanjutan fiskal.

Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi untuk jenis diesel kompak naik. Setelah sebelumnya kenaikan lebih dulu terjadi di SPBU swasta, harga untuk jenis BBM yang sama di SPBU Pertamina turut mengalami penyesuaian.

Pertamina masih tetap mempertahankan harga untuk BBM jenis Pertamax 92 yakni Rp 12.300 per liter untuk wilayah DKI Jakarta. Begitu juga dengan harga Pertamax Green 95 di Rp 12.900 per liter.

Sementara harga Pertamax Turbo 98 naik menjadi Rp 19.900 dari sebelumnya Rp 19.400. Kemudian untuk Dexlite 51 naik sebesar Rp 2.400, dari Rp 23.600 menjadi Rp 26.000 per liter. Pertamina Dex 53 juga mengalami kenaikan sebesar Rp 4.000, dari Rp 23.900 menjadi Rp 27.900 per liter.

Perubahan harga ini mengikuti langkah sejumlah SPBU swasta sebelumnya yang sudah lebih duluan naik per 2 Mei 2025. Kenaikan paling drastis terlihat pada produk solar (diesel) SPBU PT Vivo Energy Indonesia dan PT Aneka Petroindo Raya atau BP-AKR, yang menjadi Rp 30.890 per liter.

instagram embed