Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
27 Ramadhan 1446 HKamis, 27 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Tak Hanya Mobil Listrik, Toyota Astra Mau Bikin Kendaraan Berbasis Biofuel & CNG
5 September 2024 18:12 WIB
·
waktu baca 2 menitDiperbarui 24 Maret 2025 20:51 WIB

ADVERTISEMENT
Toyota Astra mulai masuk bisnis kendaraan listrik. Setelah meluncurkan mobil listrik, kini perusahaan berencana bikin transportasi berbasis biofuel dan gas.
ADVERTISEMENT
Direktur PT Toyota Astra Motor, Henry Tanoto, mengatakan aksi korporasi ini diambil karena perusahaan serius mengurangi emisi karbon sesuai target pemerintah.
“Toyota juga berkomitmen pada teknologi BEV (Battery Electric Vehicle), plug-in hybrid dan hybrid,” kata Henry dalam diskusi panel di Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2024 di Jakarta Convention Center, Jakarta pada Kamis (5/9).
Menurut Henry, upaya mengurangi emisi karbon tidak hanya berasal dari kendaraan. Tapi proses manufaktur dan daur ulang dari kendaraan tersebut.
Soal visi mengurangi emisi karbon, Henry menyebut Toyota memiliki komitmen yang kuat pada netralitas karbon 2050.
Selain kendaraan listrik, Henry juga menyebut pihaknya akan mengembangkan teknologi hidrogen serta mesin kendaraan yang dapat menggunakan bahan bakar biofuel dan CNG (Compressed Natural Gas).
ADVERTISEMENT
“Selain itu, kami juga mengembangkan teknologi hidrogen, serta mesin yang efisien menggunakan bahan bakar biofuel dan CNG,” lanjutnya.
Ia menyebut banyaknya opsi teknologi yang ada untuk mengurangi emisi karbon disebabkan oleh perbedaan kebutuhan, daya beli, sampai infrastruktur di beberapa negara.
"Namun, di negara lain, perilaku mobilitas mereka mungkin berbeda. Mereka mungkin memerlukan jenis kendaraan tertentu, mungkin yang lebih besar atau lebih kecil. Itu juga yang kami perhatikan. Dan yang terakhir adalah kesiapan infrastruktur itu sendiri,” jelas Henry.
Selain itu ia juga setiap negara memiliki sumber daya energi terbarukan yang berbeda sampai kebijakan yang berbeda.
Untuk Indonesia, Henry melihat potensi pengembangan bahan bakar berbasis bioetanol karena besarnya sektor pertanian. Walau begitu, tantangannya adalah bagaimana pasokan energi tersebut bisa menjadi energi yang berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
“Saya pikir itu sangat penting. Sebagai contoh di Indonesia, kita kaya akan sektor pertanian. Mungkin bioetanol juga bisa menjadi salah satu kemungkinan. Namun, dari sisi teknologi, kita sebenarnya sudah cukup siap untuk itu. Tapi pertanyaannya adalah apakah kita bisa memiliki pasokan yang berkelanjutan untuk ini? Saya pikir ini adalah beberapa isu yang sudah dibahas,” pungkasnya.