Kumparan Logo

Tak Sesuai Uji Kelayakan, Biaya Angkut Gas Cisem Tahap I Masih Dibahas

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, Rabu (13/12/2023). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, Rabu (13/12/2023). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Kementerian ESDM menyebut biaya angkut gas (toll fee) menggunakan pipa transmisi gas bumi ruas Cirebon-Semarang tahap I (Cisem 1) masih dalam pembahasan BPH Migas bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan toll fee Cisem-1 sebetulnya sudah ditentukan berdasarkan permintaan gas sejak uji kelayakan (feasibility study).

Adapun pengaliran gas dari pipa Cisem-1 menyasar Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) alias Grand City Batang. Laode mengungkapkan, permintaan tersebut ternyata meleset dari perhitungan dalam feasibility study.

Petugas memeriksa instalasi pipa regasifikasi (pengubahan kembali LNG menjadi gas) di area pabrik PT Perta Arun Gas (PAG) di Lhokseumawe, Aceh, Senin (27/2/2023). Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Saat ini, penyaluran gas dari pipa Cisem baru dilakukan kepada 5 industri yang berada di KIK pada 17 November 2023 lalu. Hal ini lantaran pembangunan industri di KITB terlampau lambat dari yang seharusnya.

"Begitu baru mau dioperasikan, Batang itu kan terlambat, harusnya itu industrinya sudah banyak yang selesai, sekarang saja banyak yang belum selesai. Ini memengaruhi volume yang akan dialirkan," ungkap Laode saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/12).

Laode menjelaskan karena volume permintaan gas yang berubah tersebut, toll fee Cisem masih perlu dinegosiasikan kembali meskipun sudah ditetapkan sebelum lelang yang dimenangkan oleh PGN, yakni USD 0,31 per MMBTU.

"Pada saat akan diimplementasikan, perlu dilihat kembali volume secara keseluruhan dalam perjanjian, berapa sih itu akan dijadikan basis perhitungan," ujar Laode.

Dengan demikian, toll fee pipa Cisem-1 baru akan terlihat setelah pengaliran gas (gas in) menuju KITB yang rencananya akan mulai dilakukan di akhir Desember 2023. Namun, keseluruhan 14 tenant industri di KITB Fase I ditargetkan baru selesai di tahun 2024.

"Tol fee-nya itu akan bisa dilihat ketahuan di 2024, kira-kira industri yang baru running ini kan baru di Kendal, nanti kalau sudah running di Batang baru bisa dapat gambaran yang lebih pasti," jelas Laode.

Sebelumnya, Grand City Batang tengah mempersiapkan proses pengaliran gas bumi (gas in) dari pipa Cisem-1. Direktur Investasi Danareksa, Chris Soemijantoro, menyebutkan proses pengaliran gas belum bisa dilakukan karena masih dalam pembahasan dengan Kementerian ESDM dan PGN.

"Pipa gas sebenarnya sudah sampai ke KITB pipanya, tetapi mengenai alokasi dari gas tersebut masih dalam pembahasan di ESDM dengan PGAS, lagi bikin metering," ungkap Chris saat Media Gathering di Lokananta, Solo, Senin (11/12).

Chris melanjutkan, sejauh ini sudah ada beberapa industri yang melakukan perjanjian pemanfaatan tanah industri (PPTI) memanfaatkan pasokan gas dari Cisem, salah satunya PT KCC Glass Indonesia.

Dihubungi terpisah, Direktur Kelembagaan dan Humas KITB, Fakhrur Rozi, mengatakan tahap konstruksi pipa gas Cisem menuju KITB sudah 100 persen terbangun.

Fakhrur melanjutkan, selain KCC, ada perusahaan lain yang sudah menyatakan bakal menggunakan pasokan gas dari pipa gas Cisem, yakni PT Rumah Keramik Indonesia (RKI). Pabrik yang menggunakan lahan 13,8 hektare ini merupakan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pertama di KITB.

"Untuk sampai saat ini masih RKI dan KCC, untuk proses bisnisnya business to business (B2B) antara tenant dengan PGN langsung," tutur Fakhrur.