Tanggul Laut Raksasa Pantura Akan Sepanjang 575 Km, Terbagi 2 Wilayah
·waktu baca 2 menit

Pemerintah telah menyelenggarakan kick-off meeting lintas kementerian dan lembaga (K/L) terkait pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) Pantai Utara (Pantura) Jawa. Nantinya, GSW akan terbentang sepanjang 575 km.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjelaskan nantinya GSW juga akan terbagi ke dalam dua wilayah. Dengan begitu, pembangunan GSW menurutnya perlu sinergi antar K/L.
“Percepatan penyusunan masterplan menjadi kunci. Ini membutuhkan dukungan dan sinergi seluruh pihak,” kata AHY dikutip Minggu (10/5).
Adapun GSW Wilayah I mencakup Serang, Tangerang, Teluk Jakarta, Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, hingga Cirebon. Sementara GSW Wilayah II mencakup Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, Pati, Rembang, Tuban, Lamongan, hingga Gresik.
AHY juga menjelaskan bahwa pembangunan GSW tak hanya membangun tanggul. Nantinya, terdapat tiga infrastruktur yang akan dikembangkan di Pantura Jawa yang meliputi tanggul laut (offshore dike), tanggul pantai (coastal dike), serta pendekatan berbasis alam seperti konservasi mangrove (soft dike).
“Penanganan penurunan muka tanah tidak bisa dilakukan secara parsial. Pendekatannya harus dari hulu ke hilir,” ujarnya.
AHY juga menjelaskan bahwa Presiden Prabowo mengarahkan agar pembangunan GSW didukung perencanaan yang matang, berbasis data, serta berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan perlindungan masyarakat.
Untuk itu, Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) selaku pelaksana juga berkoordinasi dengan stakeholder lainnya.
“Kita membangun super team untuk mengorkestrasi perencanaan, pembiayaan, dan implementasi jangka panjang, sekitar 15–20 tahun, demi menyelamatkan ekonomi dan jutaan masyarakat di wilayah pesisir,” kata AHY.
AHY menjelaskan GSW memang penting untuk merespons penurunan muka tanah di kawasan Pantura Jawa. Selain itu, frekuensi banjir rob serta kenaikan permukaan air laut juga menjadi hal yang dikhawatirkan.
“Terjadi kenaikan permukaan air laut sekitar 0,8 hingga 1,2 cm per tahun akibat pemanasan global. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir rob yang dapat merusak permukiman dan infrastruktur masyarakat,” ujarnya.
