Target BCA Tahun Ini: Kredit Tumbuh 7 Persen dan Luncurkan Bank Digital

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan total pertumbuhan kredit konsolidasi (outstanding) turun 2,5 persen dibandingkan 2019 menjadi hanya Rp 588,7 triliun. Meskipun rata-rata kredit tumbuh 4,7 persen secara tahunan dan total fasilitas kredit untuk bisnis meningkat 5 persen.
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, dengan adanya pelemahan aktivitas bisnis, maka fasilitas kredit tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, sehingga per akhir Desember 2020 total kredit BCA turun 2,1 persen menjadi Rp 575,6 triliun. Ini menyebabkan total kredit konsolidasi terkontraksi.
Turunnya kredit, menurut Jahja, bukan masalah markoekonomi ataupun perang perdagangan global, tapi murni pandemi COVID-19 yang menyebabkan aktivitas jual-beli masyarakat terganggu.
"Kenapa sih tahun 2020 pinjaman bisa nyungsep? Dari '98 kita enggak pernah lho negative growth outstanding-nya, ini negatif 2,5 persen termasuk BCA Finance. Kalau BCA only 2,1 persen," ujar Jahja dalam paparan kinerja BCA 2020, Senin (8/2).
Jahja juga mengungkapkan menjelang akhir tahun lalu, banyak BUMN yang repayment ke BCA, mulai dari PT Pertamina (Persero) hingga PT PLN (Persero). Sejumlah bank pembangunan daerah juga melakukan hal sama karena secara kas, mereka kebanjiran uang.
Dari sisi kredit konsumer, BCA juga sempat mengalami penurunan tajam. Sejak April 2020, kredit kendaraan bermotor (KKB) BCA turun dari biasanya Rp 2,5 triliun menjadi hanya Rp 90 miliar.
"Ini menyedihkan banget," ujarnya.
Lalu di Mei kredit KKB mulai naik meski hanya Rp 200 miliar dalam sebulan. Bulan berikutnya naik lagi menjadi Rp 400 miliar. Setelah itu, BCA melakukan virtual expo yang membuat KKB naik sejak Oktober-November 2020 di atas Rp 1 triliun.
Begitu pun Kredit Perumahan Rakyat (KPR), biasanya dalam sebulan Rp 2,5 triliun per bulan, tahun lalu sempat turun sampai Rp 850 miliar. Tapi, bisa didongkrak lagi meski hanya sampai Rp 1,5 triliun.
"Secara keseluruhan, ini karena repayment. Itu kadang masyarakat lupa apakah KKB/KPR tiap bulan ada repayment. Meskipun kita dapat kredit baru Rp 1 triliun lebih, tapi repayment Rp 2 triliun. Di ujung tahun akhirnya consumer loan kita minus 10 persen. Jadi itu yang terjadi di consumer," ujar Jahja.
Diakui Jahja, penyaluran kredit menjadi pemasukan yang paling menguntungkan bagi perbankan. Karena itu, penurunan kredit di masa pandemi ini berdampak pada pendapatan perbankan.
Sepanjang tahun lalu, memang total pendapatan operasional masih meningkat 5,1 persen menjadi Rp 74,8 triliun dibandingkan 2019. Tapi, labanya turun 5 persen menjadi Rp 27,1 triliun secara tahunan.
Selain dari kredit, salah satu pendapatan BCA yang berkurang tajam berasal dari fee based langsung dari kartu kredit, debit, biaya switching di ATM, hingga transaksi treasury.
"Karena ada COVID, kan orang jadi jarang pakai kartu kredit dan debit, ini trennya turun. Fee based ATM juga turun. Tapi jangan khawatir, ada digital transaksi. Ini sudah kita kembangkan virtual account, e-wallet top-up dibikin gampang. Dan itu ada fee-nya. Itu yang meningkat," ujar Jahja.
Di sisi lain, orang lebih suka menabung. BCA mencatat dana pihak ketiga (DPK) sepanjang tahun lalu mencapai mencapai Rp 840,8 triliun atau naik 19,3 persen dibandingkan 2019 secara tahunan.
Rinciannya, current account and savings account (CASA) atau dana murah tumbuh 21 persen secara tahunan mencapai Rp 643,9 triliun secara tahunan. Sementara itu, deposito berjangka meningkat sebesar 14 persen persen menjadi Rp 196,9 triliun.
Targetkan Kredit Tumbuh hingga 7 Persen Tahun Ini
Meski tahun lalu pertumbuhan kredit kurang baik, di tahun ini BCA memasang target pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini hingga 7 persen. Perseroan optimistis target itu bisa direalisasikan seiring dengan bakal membaiknya ekonomi nasional setahun ke depan.
Jahja mengatakan, pertumbuhan ekonomi di tahun ini memang tidak mungkin bisa terdongkrak dua digit. Tapi, menurutnya di kisaran 7 persen masih memungkinkan seiring dengan keberadaan vaksin COVID-19 di dalam negeri.
"Kalau itu sudah balik ke new normal, saya yakin permintaan kredit bertambah, namun belum balik seperti dulu, tidak double digit. Mungkin bicara 4 sampai 6 persen atau 7 persen masih bisa saya kira itu," ujarnya.
Meski begitu, Jahja mengungkapkan kecepatan vaksinasi menjadi penentu bisa terkereknya pertumbuhan kredit nasional. Kalau vaksinasi berjalan lancar dan masyarakat kembali beraktivitas, maka ekonomi bisa normal meski belum bisa normal seperti sebelum pandemi.
"Tapi sudah jauh melebihi saat koreksi April sampai Agustus (tahun lalu) yang worse (buruk)," kata Jahja.
BCA Siap Luncurkan Bank Digital Semester I 2021
BCA bersiap meluncurkan anak usahanya PT Bank Digital BCA menjadi bank yang sepenuhnya digital atau neo bank pada semester I 2021. Bank Digital disiapkan BCA untuk menggaet nasabah milenial.
Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim mengatakan, saat ini perusahaan terus melakukan proses perubahan bisnis anak usaha ini agar siap bersaing di dunia bank digital nasional.
"Soal Bank Digital BCA, rencana kami tidak berubah. Kami tengah piloting Bank digital BCA ini sudah piloting secara internal. Kami akan luncurkan semester pertama tahun ini," kata dia dalam paparan Kinerja BCA 2020, Senin (8/2).
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjelaskan, dengan rupa Bank Digital BCA yang baru sebagai neo bank, nantinya aktivitas layanan bank ini dilakukan penuh secara digital. Sebab, bank ini nantinya tidak akan memiliki cabang.
"Jadi, enggak langsung handling cash. Mungkin saja dompleng ATM-nya ke BCA," ujarnya.
Bank Digital BCA sebelumnya merupakan Bank Royal yang diakuisisi BCA Group pada 2019 lalu dengan nilai akuisisi Rp 1 triliun. Akuisisi Bank Royal kala itu untuk mendukung program arsitektur perbankan Indonesia dan pengembangan bisnis perseroan di bidang layanan transaksi digital.
