Tarif GoFood Turun Diklaim Justru Kerek Pendapatan Ojol, Kok Bisa?
·waktu baca 2 menit

Manajemen Gojek angkat bicara soal kebijakan penurunan tarif order di GoFood yang disebut berdampak pada merosotnya penghasilan para mitra ojek online (ojol).
Vice President Corporate Affairs Food & Groceries Gojek, Rosel Lavina, mengungkapkan justru yang terjadi adalah sebaliknya. Dia mengeklaim kebijakan teranyar lini bisnis di bawah Gojek itu justru bakal mengerek pendapatan ojol.
"Justru dengan kebijakan tarif jarak dekat ini, memungkinkan driver memperoleh orderan lebih meningkat," jelas Rosel kepada kumparan, Senin (15/11).
Peningkatan jumlah order itu, lanjutnya, sangat memungkinkan terjadi karena jarak order lebih dengan akan semakin banyak dengan penurunan tarif. Di samping itu, perusahaan juga menjamin adanya skema apresiasi tambahan alias bonus buat para mitra.
"Kami juga berfokus pada komitmen kami terhadap peluang pendapatan mitra driver. Hal ini kami wujudkan dengan menyediakan skema apresiasi tambahan kepada mitra driver yang besarannya disesuaikan di masing-masing daerah," sambungnya.
Kebijakan terbaru di layanan GoFood yakni turunnya tarif dari Rp 9.600 menjadi Rp 8.000. Tarif ini dihitung berdasarkan jarak per kilometer Rp 1.850 sampai Rp 2.000.
Berdasarkan penjelasan Rosel, dengan kebijakan terbaru ini, tarif yang berlaku sekarang menjadi 2 skema. Pertama ongkos kirim dengan jarak hingga 2 km, dan ongkir untuk jarak di atas 2 km yang tidak mengalami perubahan.
Kebijakan ini sebelumnya dinilai bakalan merugikan para driver ojol. Terlebih lagi, menurut Peneliti dari Institute of Governance and Public Affairs UGM, Arif Novianto, tarif ojol di Indonesia adalah salah satu yang terendah di dunia.
"Di beberapa daerah, pendapatan minimum ojol dalam layanan GoFood mengalami penurunan. Di Jogja, dari awalnya Rp 1.800/km (Rp 7.200/0-4 km), turun menjadi Rp 1.600/km (Rp 6.400/0-4 km)," ungkap Arif.
