Bisnis
·
14 April 2019 10:47

Tebar Janji Ala Prabowo dan Jokowi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Tebar Janji Ala Prabowo dan Jokowi (29473)
Kedua pasangan capres dan cawapres bersalaman usai Debat Final Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto memaparkan cara yang berbeda dalam mengembangkan potensi ekonomi Indonesia. Dalam Debat Pilpres terakhir, keduanya pun mengungkap resep peningkatan ekonomi yang akan dipakai bila terpilih menjadi presiden.
ADVERTISEMENT
Berikut rangkuman janji kedua calon presiden (capres) tersebut:
Industrialisasi vs Pemerataan Ekonomi
Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, menyebut Indonesia saat ini tengah berada dalam masa deindustrialisasi.
“Tiongkok dalam 40 tahun menghilangkan kemiskinan. India bangkit. Tapi, para pakar mengatakan di Indonesia sedang terjadi deindustrialisasi. Bukan industrialisasi, tapi deindustrialisasi,” katanya dalam debat kelima Pemilihan Presiden (Pilpres) di Jakarta, Sabtu (13/1).
Karena itu, jika terpilih menjadi presiden 2019-2024, dia dan Sandiaga Uno ingin melakukan industrialisasi. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan belajar dari negara-negara maju.
"Kita akan berubah. Kita akan meneruskan industrialisasi di Indonesia. Kita akan belajar dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Vietnam," tegasnya.
Sementara itu, di sisi lain, Capres nomor urut 01 dalam pidato pembukanya menyampaikan akan melakukan pemerataan di semua daerah di Indonesia. Dia juga menyatakan upaya ini telah dilakukan agar pembangunan ekonomi tidak hanya terpusat di Pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
"Pertumbuhan tanpa pemerataan adalah ketimpangan," jelasnya.
Maka dari itu, pemerintahannya membangun infrastruktur di seluruh penjuru negeri. Sehingga nantinya akan muncul pusat ekonomi baru yang mampu memperkecil ketimpangan pendapatan.
"Oleh sebab itu, kami membangun infrastruktur tidak di Jawa saja, tidak Jawa Sentris tapi Indonesia Sentris. Untuk apa? dengan infrastruktur itu kita ingin titik ekonomi baru di luar Jawa, baik berupa kawasan industri kecil, baik berupa kawasan ekonomi khusus," tambahnya.
Swasembada Pangan vs Hilirisasi
Dalam debat terakhir, Capres Prabowo-Sandi berulang kali menekankan bahwa pihaknya akan melakukan swasembada pangan. Hal ini, disebut Prabowo lebih penting ketimbang program pengembangan ekonomi digital yang ditawarkan oleh Jokowi-Ma'aruf.
"Digital-digital itu bagus, tapi rakyat kita butuh swasembada pangan" kata Prabowo pada Minggu (13/4).
ADVERTISEMENT
Sandiaga Uno menambahkan, dirinya dan Prabowo bakal menerapkan 'big push strategy' atau strategi dorongan besar berupa yaitu swasembada pangan.
"Swasembada pangan ini kita dorong proses produksi kita, pupuk dilancarkan, para petani bisa mendapatkan bibit, bisa mendapat obat-obatan yang murah, dan stop impor saat panen," jelas Sandiaga.
Di sisi lain, Capres nomor urut 01, Jokowi, menjanjikan akan mengutamakan hilirisasi di sektor komoditas. Beberapa komoditas, sebutnya, selama ini masih diekspor dalam bentuk produk mentah atau raw material.
"Kita sudah terlalu lama, komoditas-komoditas kita tergantung kepada pasar-pasar luar negeri, dan kita sudah terlalu lama mengekspor dalam bentuk mentahan, raw material, baik itu karet, kelapa sawit, baik itu perikanan komoditas-komoditas pertanian," katanya.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, dia mencanangkan pembangunan sejumlah industri pengolahan berbasis sumber daya alam, termasuk perikanan."Perlu dibangun industri-industri perikanan sebanyak-banyaknya, pengolahan, pengalengan, sehingga kita mengekspor barang yang sudah olahan," katanya.
Bank Tabungan Haji vs Halal Park
Baik Prabowo maupun Jokowi, memiliki strategi sendiri dalam mengembangkan potensi ekonomi keuangan syariah di Indonesia.
Dalam debat terakhir, Prabowo menjanjikan akan membentuk bank yang secara khusus mengelola dana tabungan jemaah haji. Menurutnya, perputaran uang yang terjadi dalam dana haji begitu besar namun masih belum terkelola dengan baik.
"Potensi yang besar itu berasal dari tabungan calon jemaah haji. Selama ini masih terjadi keraguan tentang pengelolaan dana tersebut, maka kami ingin membentuk bank tabungan haji yang mengelola secara modern, efisien, dan transparan. Agar dana tersebut bermanfaat untuk umat dan tidak disalahgunakan," katanya.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 juga menyampaikan keinginan agar Indonesia memiliki bank syariah terbesar di Asia Tenggara. Saat ini, perbankan syariah di dalam negeri dinilai masih kesulitan meningkatkan pangsa pasar melawan perbankan konvensional.
“Sudah saatnya kita punya bank terbesar di Asean. Kami yakin bisa Jakarta jadi pusat keuangan syariah,” tutur Sandiaga Uno.
Sementara itu, Jokowi mengungkap akan segera membuka halal park untuk memperkenalkan produk halal yang berasal dari Indonesia. Dia menambahkan, Indonesia sebagai negara negara dengan penduduk muslim terbesar harus menjadi pusat dalam keuangan syariah dan wisata halal.
"Sebentar lagi kita akan membuka Halal Park di dekat GBK," ujarnya.
Prabowo vs Jokowi Dongkrak Rasio Pajak
ADVERTISEMENT
Prabowo sempat menyinggung rendahnya rasio pajak di Indonesia yang berkisar 10-11 persen. Dia membandingkannya dengan rasio pajak Malaysia yang sudah mencapai 19 persen.
Rasio tersebut disebutnya juga merosot ketimbang era Orde Baru yang sempat mencapai 16 persen. Oleh karena itu, dirinya menjanjikan paling tidak dapat mengembalikan rasio pajak kembali mencapai 16 persen dengan meningkatkan transparansi dan pemanfaatan teknologi.
Dia kemudian mencanangkan pembentukan Badan Penerimaan Negara yang terpisah dengan Kementerian Keuangan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Inisiatif tersebut juga disertai dengan pengurangan tarif pajak perorangan dengan meningkatkan batas penghasilan tidak kena pajak. Di samping itu, tarif pajak korporasi juga dijanjikan turun dari yang berlaku saat ini untuk menarik lebih banyak investasi.
ADVERTISEMENT
Sedangkan Jokowi menilai perluasan basis pajak usai program amnesti pajak perlu dilakukan secara bertahap nantinya. Dia menilai upaya ini perlu difokuskan dengan melakukan reformasi pada pelayanan.
"Ini akan memberikan dampak signifikan bagi pembayar pajak, karena merasa dilayani dengan baik," katanya.
Rumah Siap Kerja vs Ekosistem Game
Dalam debat terakhir kemarin, Jokowi menanyakan soal strategi pasangan Prabowo-Sandi tentang pengembangan e-sport. Pertanyaan ini dijawab oleh Sandiaga Uno.
Dia mengatakan bahwa anak muda Indonesia saat ini memiliki peluang untuk menciptakan produk-produk e-sport yang menguasai pasar dunia. Sehingga, diharapkan Indonesia tidak hanya sekedar menjadi pasar.
“Anak-anak muda milenial Indonesia ini hebat-hebat sekali, saya sebutnya sebagai sebagai generasi ‘POP’ mereka positif, optimis, dan produktif. Strategi kami sangat jelas kembali kepada entrepreneurship dan kunci pemerintah adalah memfasilitasi karena kita tidak terlalu bisa meregulasi industri yang sangat cepat berkembang,” tuturnya.
ADVERTISEMENT
Sandi menerangkan salah satu upaya memfasilitasi anak muda dengan Rumah Siap Kerja yang menyediakan latihan khusus untuk para atlet e-sport agar Indonesia memiliki bibit juara dunia.
Namun, Jokowi juga tak mau kalah. Dia berjanji akan merangkul kalangan gamer di Indonesia. Sebab, industri game, katanya, memiliki peluang dan kontribusi besar bagi perekonomian negara.
"Pada tahun 2017, perputaran uang di industri ini mencapai Rp 11-12 triliun dengan pertumbuhan sebesar 20-25 persen per tahun," katanya.
Karena itu, dia akan membangun infrastruktur digital guna mendukungnya. Dia juga menambahkan, untuk membuat para gamer nyaman dikembangkan pula ekosistem agar mereka juga bisa mengembangkan game sendiri, sehingga tak cuma jadi konsumen game asing. Termasuk membuat tempat latihan sehingga nantinya para gamer lokal bisa menjadi pemain profesional dunia.
ADVERTISEMENT