Kumparan Logo

Teknologi Smart Contract di Kripto Disebut Bisa Permudah Sistem Pemerintahan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi platform pertukaran kripto FTX. Foto: Sergei Elagin/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi platform pertukaran kripto FTX. Foto: Sergei Elagin/Shutterstock

Platform jual beli kripto di Indonesia, Indodax, menyebut teknologi yang digunakan di kripto bisa dimanfaatkan secara luas, termasuk di sistem pemerintahan. Chief Executive Officer (CEO) Indodax, Oscar Darmawan, mencontohkan salah satu teknologi yang digunakan kripto, yakni smart contract.

Smart contract adalah sebutan untuk kontrak yang terprogram, di mana setiap perjanjian dicatat dalam kode komputer di blockchain. Menurutnya, teknologi smart contract dapat diaplikasikan lebih jauh lagi dalam aspek transparansi pemerintahan di Indonesia, seperti dalam melakukan pemungutan suara serta melancarkan program penggalangan dana di masyarakat.

“Dengan kemampuannya untuk terbuka dan dilihat secara umum, smart contract menjadi terobosan teknologi yang bisa digunakan oleh industri dan pemerintahan di Indonesia. Karena adanya transparan, kita juga bisa mudah untuk melacak dan melaporkan jika ada ketidaksesuaian data yang ada," kata Oscar dalam keterangannya, Selasa (2/5).

embed from external kumparan

Dia menjelaskan, saat ini teknologi itu telah banyak digunakan sebagai tonggak utama di lingkungan aset kripto seperti NFT, pembuat token kripto, maupun decentralized apps lainnya.

"Jika perjanjian yang dibuat oleh kedua belah pihak sudah menggunakan smart contract, maka kita tidak lagi memerlukan pihak ketiga yang berfungsi sebagai penengah atau untuk memastikan verifikasi transaksi. Karena smart contract ini berdiri di atas jaringan blockchain yang bersifat public, maka masyarakat umum sekalipun bisa melihat kontrak yang sudah disepakati," jelasnya.

Ia menjelaskan, pada dasarnya konsep dari smart contract dipelopori oleh jaringan Ethereum. Tak heran banyak token kripto lain yang berjalan di jaringan Ethereum yang mana merupakan buah hasil penggunaan smart contract tersebut.

Menurut dia, semakin banyaknya token yang berjalan di jaringan Ethereum, skalabilitas Ethereum pun semakin melambat. Serta adanya biaya tambahan gas fee Ethereum yang juga besar. Oleh karena itu, lahirlah jaringan smart contract lainnya yang mana beberapa di antaranya adalah jaringan Solana, Polygon, dan Cardano.

Oscar menuturkan, selain dapat dimanfaatkan di industri kripto dan bidang pemerintah, smart contract juga dapat memaksimalkan industri kesehatan di Indonesia. "Meskipun smart contract tidak luput dari kekurangan, seperti adanya kemungkinan hacking dan lain-lain, namun kita bisa memanfaatkan smart contract ini untuk transparansi yang lebih baik lagi," tambahnya.