Kumparan Logo

Telkom Jaga Pertumbuhan dengan Tingkatkan Nilai Tambah Infrastruktur Digital

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini dalam kegiatan Public Expose Live 2026 di Jakarta pada Senin (7/9). Foto: Dok. Telkom
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini dalam kegiatan Public Expose Live 2026 di Jakarta pada Senin (7/9). Foto: Dok. Telkom

Telkom melakukan transformasi bisnis melalui empat pilar strategis TLKM 30. Transformasi tersebut memberikan sinyal positif terhadap penguatan fundamental sekaligus membangun Telkom sebagai digital telco yang semakin kompetitif.

Dalam kegiatan Public Expose Live 2026 yang berlangsung secara online, Senin (7/9), Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, ungkap transformasi Telkom melalui empat pilar strategis TLKM 30, yakni operational & service excellence, streamlining, unlocking value, serta modus-operandi shift.

Turut hadir dalam agenda tersebut, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra, Direktur Wholesale and International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba, Direktur Enterprise and Business Service Telkom Veranita Yosephine, serta Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan.

Salah satu tujuan dari transformasi tersebut untuk membangun struktur bisnis TelkomGroup yang lebih fokus, dengan visibilitas kinerja dan akuntabilitas yang semakin jelas.

Dian menjelaskan bahwa Telkom tengah melakukan delayering bisnis ke dalam lima segmen utama, yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, International, serta Others dan Ancillary. Langkah ini merupakan bagian dari transisi menuju model Strategic Holding Company–Operating Company (HoldCo–OpCo) yang lebih terintegrasi, transparan, dan berorientasi pada value creation.

“Sebagai bagian dari implementasi TLKM 30, delayering ini sangat penting karena kami ingin setiap bisnis di TelkomGroup memiliki akuntabilitas dan yang lebih jelas dan fokus pada bisnis inti, dengan visibilitas yang lebih baik terhadap kinerja, arus kas, dan investasi pada masing-masing bisnis. Kami juga dapat mengambil keputusan strategis secara lebih cepat dan tepat, termasuk dalam menentukan ke mana resource dan capital perlu diarahkan. Ini menjadi fondasi penting bagi Telkom untuk tumbuh lebih sehat sekaligus memberikan nilai tambah yang lebih besar ke depan,” ujar Dian.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, memaparkan kinerja perseroan. Hingga paruh pertama 2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,9 triliun atau tumbuh 3,9 persen YoY. Sementara EBITDA tercatat meningkat 3.8 persen YoY menjadi Rp 37,5 triliun dengan margin 49,4 persen dan laba bersih tumbuh 1.4 persen YoY mencapai Rp 10,6 triliun.

Secara ternormalisasi, laba bersih mencapai Rp 11,3 triliun atau tumbuh 6,2 persen YoY. Kinerja tersebut didukung oleh perbaikan monetisasi bisnis seluler serta disiplin operasional di TelkomGroup.

“Secara keseluruhan, hasil Semester I menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan earnings yang tetap positif. Kami juga melihat perkembangan yang semakin baik pada profitabilitas, khususnya pada kuartal kedua. Ke depan, kami akan terus menjaga disiplin biaya dan kualitas pertumbuhan untuk mendukung pencapaian target profitabilitas sepanjang tahun,” jelas Angelo.

Telkom juga terus optimalisasi infrastruktur digital melalui InfraNexia yang menjadi neutral carrier yang melayani kebutuhan ekosistem TelkomGroup dan membuka ruang pertumbuhan pelanggan eksternal.

Optimalisasi juga dilakukan pada bisnis data center. Pada Semester I 2026, pendapatan NeutraDC mencapai Rp 867 miliar atau tumbuh 11 persen YoY, dengan total kapasitas efektif mencapai 49,9 MW. Permintaan terhadap fasilitas hyperscale data center (HDC) tetap kuat, ditandai dengan okupansi HDC Cikarang yang mencapai 96 persen, sementara HDC Batam ditargetkan mulai beroperasi pada Semester II 2026 dengan kapasitas awal 6 MW.

Di segmen B2B ICT, Telkom tetap menunjukkan pertumbuhan positif di periode ini. Pendapatan SME tumbuh tumbuh 11,5 persen dan jumlah pelanggan IndiBiz yang meningkat 11,7 persen menjadi 756 ribu. Penguatan bisnis enterprise juga terus dilakukan. Salah satunya melalui rencana pengambilalihan 100 persen Digiserve yang akan memperkuat kapabilitas B2B ICT Telkom dalam menghadirkan solusi end-to-end bagi pelanggan di berbagai sektor.

Pada segmen B2C, Telkomsel melanjutkan momentum pertumbuhan di tengah dinamika makroekonomi dan iklim kompetisi yang terus berkembang. Pendapatan tumbuh 5,3 persen secara tahunan menjadi Rp 28,0 triliun, sementara EBITDA meningkat 10,3 persen dan laba bersih tumbuh 24,9 persen. Perbaikan kinerja juga tercermin dari ARPU mobile yang meningkat 11,6 persen secara tahunan menjadi Rp 46 ribu, di tengah basis pelanggan yang lebih terkonsolidasi.

(kiri ke kanan) SVP Group Sustainability & Corporate Communication Ahmad Reza, Direktur Wholesale and International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, Direktur Enterprise and Business Service Telkom Veranita Yosephine, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra serta Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan pada kegiatan Public Expose Live 2026, Senin (7/9). Foto: Dok. Telkom

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyawan, menjelaskan bahwa Telkomsel juga terus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui tambahan 100 MHz spektrum pada pita 700 MHz dan 2.600 MHz, sehingga total portofolio spektrum meningkat menjadi 265 MHz.

“Kami tetap berfokus membangun pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan dengan mengutamakan kualitas pelanggan, pengalaman layanan, serta disiplin investasi. Ke depan, tambahan 100 MHz spektrum akan semakin memperkuat kapasitas dan kualitas jaringan serta mendukung pengembangan 5G. Kami akan memanfaatkan tambahan spektrum ini secara bertahap sesuai dengan kebutuhan pasar, dengan tetap menjaga disiplin investasi dan visibilitas terhadap imbal hasil untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan,” ungkap Daru.

Memasuki semester kedua, Telkom akan menjaga momentum pertumbuhan dan profitabilitas melalui monetisasi mobile data, perbaikan fixed broadband, efisiensi biaya, dan akselerasi transformasi TLKM 30. Berdasarkan pencapaian Semester I, perseroan tetap mempertahankan guidance kinerja 2026 dengan target pertumbuhan normalized revenue sebesar 1–3 persen dan margin EBITDA di atas 50 persen.

“Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, kami yakin Telkom berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target 2026. Fokusnya adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, profitabilitas, dan disiplin modal. Kami ingin memastikan setiap langkah transformasi memberikan dampak yang semakin nyata terhadap kinerja dan pada akhirnya mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi stakeholders, dengan tetap memberikan layanan terbaik bagi seluruh masyarakat,” tutup Angelo.