Tembus Rp 17.712, Sentimen Rupiah Masih Negatif & BI Diminta Naikkan Suku Bunga
·waktu baca 2 menit

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (19/5) pukul 09:09 WIB, rupiah kehilangan 38 poin (0,22 persen) ke Rp 17.706 per dolar AS yang merupakan rekor baru rupiah terburuk sepanjang masa.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan sentimen terhadap rupiah saat ini masih cenderung negatif.
“Sentimen rupiah masih sangat negatif, oleh tidak adanya respons yang jelas dan konkret dari pemerintah,” ujar Lukman, kepada kumparan, Selasa (19/5).
Menurut dia, sebenarnya rupiah berpotensi menguat seiring meredanya tekanan dolar AS setelah muncul kabar penundaan serangan AS terhadap Iran.
“Walau seharusnya rupiah bisa menguat hari ini karena tekanan dolar yang mereda, indeks dolar AS turun merespons penundaan penyerangan AS ke Iran,” katanya.
Meski begitu, Lukman menilai pelemahan rupiah masih bisa sedikit tertahan apabila Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur BI yang dijadwalkan berlangsung besok, Rabu (20/5).
“RDG BI besok diperkirakan akan menaikkan suku bunga, sedikit banyak menahan pelemahan rupiah,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi turut menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah yang disampaikan dalam peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
Menurut Ibrahim, pernyataan Presiden Prabowo justru bisa ditafsirkan negatif oleh pelaku pasar.
“Faktor dari internal itu sebenarnya tiap pidato presiden itu yang mengatakan kalau orang desa itu tidak mengenal dolar,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menilai pernyataan itu mestinya disampaikan dengan pendekatan yang lebih menenangkan pasar dan memberikan sinyal kebijakan yang jelas.
“Ya walaupun DPR mengatakan itu untuk menenangkan pasar, tapi bagi masyarakat yang intelek ya itu mengolok-olok pasar,” katanya.
Kata Ibrahim, pemerintah seharusnya menekankan komitmen menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global saat ini.
“Seharusnya Presiden mengatakan bahwa saat ini rupiah lagi melemah, masyarakat di desa sabar menunggu kebijakan-kebijakan pemerintah agar rupiah ini kembali lagi stabil,” ujarnya.
Sebelumnya, Prabowo mengatakan masyarakat desa tidak terlalu terdampak fluktuasi dolar AS karena tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari.
“Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa nggak pakai dolar, kok,” kata Prabowo di Nganjuk.
