Kumparan Logo

Tender Rute MRT Lintas Timur-Barat Tahap I Dimulai pada 2026

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Konstruksi MRT Jakarta Weni Maulina (kedua kanan) di kantor pusat MRT Jakarta, Sudirman, Selasa (27/1/2026). Foto: Muhammad Fhandra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Konstruksi MRT Jakarta Weni Maulina (kedua kanan) di kantor pusat MRT Jakarta, Sudirman, Selasa (27/1/2026). Foto: Muhammad Fhandra/kumparan

PT MRT (Mass Rapid Transportation) Jakarta memastikan proyek MRT jalur Bekasi atau Lintas Timur-Barat fase 1 tahap 1 mulai masuk tahap pengadaan pada tahun ini.

Jalur yang akan dibangun pertama berada di dalam wilayah DKI Jakarta, membentang dari Tomang hingga Medan Satria, Bekasi dengan depo di Rorotan, Jakarta Utara.

Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina, mengatakan proses persiapan proyek telah berjalan sejak akhir 2025 melalui market sounding dengan melibatkan kontraktor utama dari Jepang dan internasional lainnya.

"Khususnya dari Jepang maupun dengan internasional lainnya, dan Insyaallah kita sudah memulai tender pengadaannya di tahun ini," ungkap Weni di kantor pusat MRT Jakarta, Sudirman, Selasa (27/1).

Pada tahap awal ini, ruas Tomang-Medan Satria memiliki panjang sekitar 24,5 kilometer, ditambah sekitar 5,7 kilometer jalur menuju Depo Rorotan.

Berdasarkan peta rencana MRT Lintas Timur-Barat fase 1 tahap 1, lintasan terbagi atas jalur layang (elevated) dan jalur bawah tanah (underground).

Jalur elevated membentang dari Tomang hingga Medan Satria, mencakup kawasan Grogol, Cempaka Baru, Sumur Batu, Pakulonan Barat, Pakulonan Timur, Perintis, Pulo Gadung, Penggilingan, Cakung Barat, Pulo Gebang, Ujung Menteng, dan Medan Satria.

Proyek MRT Lintas Timur. Foto: Muhammad Fhandra/kumparan

Sementara itu, jalur underground berada di wilayah pusat kota. Lintasan bawah tanah ini dimulai dari Roxy (CP102), berlanjut ke Cideng (CP103), kemudian melewati kawasan Thamrin (CP104), hingga berakhir di Senen (CP105).

"Jadi yang warna hijau-hijau ini, ini nanti ruasnya akan menjadi ruas elevated. Sementara yang warna biru, ini nanti yang menjadi area section underground bawah tanah, jadi dari arah Roxy CP102, sampai dengan Cideng ini 103, lalu masuk ke Thamrin ke Kwitang," ucap dia.

Pada tahun ini, MRT Jakarta memprioritaskan proses pengadaan paket-paket pekerjaan. Salah satu yang sudah masuk tahap lelang adalah CP100 yang merupakan paket pekerjaan persiapan di sejumlah titik sepanjang jalur fase 1.

"Jadi gambaran pelaksanaannya untuk di tahun ini kita fokus pada pengadaan, namun demikian memang untuk satu paket pertama tadi, CP100 ini akan kita mulai di tahun ini, sekitar bulan Mei," lanjutnya.

Selain CP100, MRT Jakarta juga menargetkan beberapa paket lain untuk segera masuk tahap kontrak pada tahun yang sama, termasuk CP109 (Depo Rorotan) dan CP104.

"Untuk CP109 tadi yang ada di Rorotan ini juga akan ditargetkan untuk award atau dimulai, kemudian CP104 ini juga akan ditargetkan untuk kontrak award di tahun ini," imbuh Weni.

Rangkaian kereta MRT melintas di bawah Halte Transjakarta Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) koridor 13 di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Sebelumnya, pemerintah mengalokasikan hibah untuk pembangunan MRT Jakarta sebesar Rp 2,61 triliun untuk tahun 2026. Dalam Buku Nota Keuangan APBN 2026, angka tersebut naik 140,3 persen dibandingkan outlook 2025 yang sebesar Rp 1,09 triliun.

Mengutip laman MRT Jakarta, MRT East-West atau koridor Timur-Barat, akan terbentang sepanjang 84 km dari Balaraja, Tangerang hingga Cikarang, Bekasi.

Dalam pengerjaannya, akan terbagi menjadi empat tahap pekerjaan, yaitu Fase 1 Tahap 1 (Tomang-Medan Satria sepanjang 22,7 km); Fase 1 Tahap 2 (Kembangan-Tomang sepanjang 9,2 km); Fase 2 Timur (Medan Satria-Cikarang sepanjang 21,8 km); dan Fase 2 Barat (Kembangan Balaraja sepanjang 29,9 km).

Hibah MRT bersumber dari pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA) yang pelaksanaannya dimulai dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2034, dan diberikan kepada Provinsi Daerah Khusus Jakarta sebagai penerima hibah. Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan berperan selaku Executing Agency (EA).

instagram embed