Tentang Pecah Kongsi Perusahaan Surya Paloh dan China Sonangol
·waktu baca 3 menit

Pecah kongsi terjadi antara PT Media Property Indonesia (MPI) atau anak usaha Media Group milik pengusaha Surya Paloh dan China Sonangol Real Estate Pte Ltd (CSRE) di dalam PT China Sonangol Media Investment (CSMI). Kedua perusahaan ini berseteru terkait pembangunan Gedung Indonesia 1 di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
MPI melaporkan CSRE ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan dan penggelapan investasi. Sengketa proyek Gedung Indonesia 1 ini juga membuat pihak Surya Paloh menggugat CSMI dan CSRE di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).
CSRE merupakan anak perusahaan China Sonangol Group yang merupakan investor asing dan menjadi pemegang saham mayoritas di CSMI. Adapun nilai proyek Gedung Indonesia 1 yang pernah diresmikan Presiden Joko Widodo itu mencapai Rp 8 triliun.
Pihak Surya Paloh Merasa Ditipu China Sonangol, Termasuk Jatah Saham
CEO Media Group, Mohammad Mirdal Akib mengungkapkan, sebelumnya CSRE sepakat kerja sama berkesinambungan dengan MPI, hingga melahirkan PT CSMI untuk melaksanakan proyek pembangunan gedung Indonesia 1 di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Mirdal mengatakan dalam komitmen awal, MPI memiliki hak 30 persen saham, sisanya milik CSRE. Ia menjelaskan mulanya proyek mesti berjalan dengan segala hal terkait administrasi awal dan sebagainya belum dilegalkan. Kemudian muncul kesepakatan akan digelarnya rapat umum pemegang saham (RUPS) berikutnya.
Namun seiring proses pembangunan berjalan, owner CSMI berubah. Menurutnya dari sini semuanya mulai terkatung-katung. Ia merasa semangat yang dibangun sejak awal sama sekali tidak dianggap oleh manajemen baru CSMI.
"Kemudian turun lah komitmen menjadi 10 persen. Kami pun juga masih menunggu, kalau ada perubahaan seperti itu kan harus ada RUPS, pemberitahuan kepada kami sebagai pemegang saham," jelas Mirdal, Senin (9/8).
Akibat kisruh yang dialami CSMI, Mirdal menganggap kepemilikan saham MPI menjadi tidak jelas. Karenanya, kepentingan MPI untuk bisa segera menuntaskan proyek pembangunan Gedung Indonesia 1 menjadi terhambat.
Alih-alih menetapi janjinya, pimpinan baru CSMI hanya mengakui kepemilikan saham MPI di CSMI sebesar 1 persen. Padahal, kata Mirdal, sejak awal perencanaan hingga proses pembangunan, peran MPI selaku investor lokal selalu berada di garis terdepan.
Pernah Diresmikan Jokowi, Pembangunan Gedung Indonesia 1 Terancam Mangkrak
Mirdal menyebut sebenarnya pengerjaan proyek bernilai Rp 8 triliun itu sudah mencapai 70 persen. Gedung tersebut berkonsep green building yang akan menerapkan teknologi ramah lingkungan.
Dia juga menyebut fasilitas gedung Indonesia 1 juga disebut sebagai bintang tujuh. Sayangnya, proses penyelesaian pembangunan harus ikut terdampak pandemi COVID-19 yang sampai saat ini masih berlangsung.
“Mulai terkendala itu begitu pandemi pembangunan kemudian disetop, beberapa karyawan utama dari China Sonangol kemudian dipanggil, ditarik lagi kembali China dan kemudian hingga akhirnya proyek ini mengalami kemacetan,” ujar Mirdal.
Belum diketahui kapan pastinya proyek gedung Indonesia 1 bakal segera digarap lagi. Proyek tersebut sudah dimulai pada awal Januari 2015. Saat itu, Jokowi secara langsung yang melakukan peletakan batu pertama pembangunan.
Gedung Indonesia 1 yang dibangun di Jalan MH Thamrin tersebut terdiri dari 7 lantai basement, 58 lantai North Tower, dan 57 lantai South Tower. Total lantai 306,000 sqm, di atas luas tanah 18,900 sqm. Dari puluhan lantai itu, pihak Surya Paloh dijanjikan mendapatkan jatah 3 lantai.
Rencananya pembangunan dilangsungkan selama 48 bulan atau ditargetkan selesai tahun 2019. Namun kenyataannya sampai saat ini belum rampung.
Selain karena pandemi COVID-19, pembangunan gedung Indonesia 1 terkendala karena adanya kisruh atau sengketa internal di CSMI.
