Tertekan Harga Bahan Pokok, Angka Kemiskinan Argentina Melonjak Tajam

Angka kemiskinan di Argentina melonjak hingga 32,3 persen pada semester pertama tahun 2026. Kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan pendapatan warga yang tidak sanggup mengejar lonjakan harga bahan pokok.
Capaian ini menjadi pukulan telak bagi Presiden libertarian Javier Milei, hanya setahun jelang upayanya mencalonkan diri kembali pada pemilu mendatang.
Badan Pusat Statistik Argentina (INDEC), melaporkan bahwa proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan naik 4 persen dibandingkan semester kedua 2025 yang mencatatkan angka 28,2 persen.
"Sementara itu, angka kemiskinan ekstrem (indigence) juga meningkat dari 6,3 persen menjadi 7,5 persen," seperti yang dikutip AP News, Minggu (27/9).
Kenaikan ini berbalik dari klaim Milei yang sebelumnya berulang kali membanggakan penurunan angka kemiskinan sebagai bukti keberhasilan reformasi pasar bebasnya.
Angka kemiskinan sempat meroket hingga mendekati 53 persen pada semester pertama 2024 pascadevaluasi mata uang peso dan pemangkasan anggaran besar-besaran, yang membuat mayoritas warga tidak mampu membeli kebutuhan pokok.
Namun, angka tersebut sempat turun drastis seiring kebijakan penghematan Milei yang berhasil meredam inflasi, hingga menyentuh rekor terendah dalam delapan tahun terakhir di level 28 persen pada semester kedua 2025.
Daya Beli Tergerus
Laporan terbaru INDEC menunjukkan bahwa tren positif tersebut kini kehilangan momentum seiring meningkatnya angka pengangguran dan tergerusnya daya beli warga.
Rata-rata gaji riil masyarakat saat ini bahkan masih berada di bawah level awal Milei menjabat pada Desember 2023.
INDEC mencatat rata-rata pendapatan per kapita rumah tangga hanya naik 11,5 persen dibandingkan enam bulan sebelumnya, sementara harga paket bahan pokok yang menjadi acuan garis kemiskinan melonjak hampir 20 persen.
Secara keseluruhan, sekitar 9,7 juta jiwa dari 31 wilayah perkotaan yang disurvei INDEC hidup di bawah garis kemiskinan, termasuk 2,25 juta jiwa di antaranya yang berada dalam kategori kemiskinan ekstrem.
"Bahkan, hampir 45 persen anak-anak berusia di bawah 15 tahun tergolong miskin. Survei ini mencakup 30,1 juta jiwa di kawasan perkotaan utama, dari total populasi Argentina yang mencapai 46 juta jiwa," tulis laporan tersebut.
Saat awal menjabat, Milei mewarisi laju inflasi tiga digit serta defisit fiskal kronis dari pemerintahan penganut paham populis sebelumnya.
Ia merespons kondisi tersebut dengan menjalankan program penghematan (austerity) paling agresif dalam sejarah modern Argentina, yakni dengan memangkas belanja publik dan subsidi, serta memperketat kebijakan moneter.
Pemerintahannya bergeming bahwa keseimbangan fiskal adalah kunci utama untuk menstabilkan krisis ekonomi dan membangun fondasi standar hidup yang lebih baik.
Namun, stabilitas makroekonomi yang dicapai Milei sejauh ini belum mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan riil. Lapangan kerja formal di sektor swasta terus merosot selama 13 bulan berturut-turut, sementara aktivitas ekonomi pada Juli tercatat turun 2,9 persen secara bulanan.
“Milei berhasil meyakinkan publik bahwa surplus anggaran membutuhkan pengorbanan, dan saat ini pengorbanan tersebut seharusnya mulai membuahkan hasil,” kata Lucas Romero, analis politik dari lembaga survei Synopsis Consultores.
“Tanpa hasil nyata, baik pada pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, maupun pendapatan akan sulit meyakinkan masyarakat untuk terus berkorban, terutama jika pemerintah meminta pengetatan anggaran lebih lanjut,” imbuh Romero.
Para kritikus menyebut kelompok masyarakat miskin harus menanggung beban terberat dari stabilitas ekonomi ini. Analisis dari lembaga riset Argentine Institute of Fiscal Analysis (IARAF) mencatat bahwa pemangkasan dana pensiun dan bantuan sosial menyumbang hampir seperempat dari total pemotongan belanja riil pemerintah.
Menteri Ekonomi Argentina, Luis Caputo, mengakui adanya kenaikan angka kemiskinan tersebut melalui unggahan di media sosial, namun ia menegaskan bahwa posisinya masih jauh lebih baik dibandingkan awal masa jabatan Milei.
“Meskipun angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem meningkat dibandingkan semester sebelumnya, kedua tingkat tersebut masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan semester pertama tahun 2024,” tulisnya.
