Kumparan Logo

The Fed Beri Sinyal Suku Bunga Acuan AS Tak Naik hingga 2024

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jerome Powell Foto: REUTERS/Joshua Roberts
zoom-in-whitePerbesar
Jerome Powell Foto: REUTERS/Joshua Roberts

Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, memberikan sinyal suku bunga acuan atau The Fed Fund Rate tidak akan naik hingga 2024. Suku bunga akan dipertahankan mendekati nol persen, meskipun proyeksi pertumbuhan AS lebih tinggi dari sebelumnya.

Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan, kebijakan moneter bank sentral masih akan dovish atau lunak. Menurutnya, ekonomi AS saat ini masih membutuhkan stimulus moneter.

Tadi malam waktu AS, The Fed mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran target 0-0,25 persen di bulan ini. Powell juga mengatakan, terlalu dini untuk saat ini mengurangi pembelian obligasi AS atau tapering off senilai USD 120 miliar per bulan.

"Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan agar ekonomi pulih secepat mungkin ke kondisi maksimum,” ujar Powell seperti dikutip dari Reuters, Kamis (18/3).

New York Federal Reserve Bank Foto: REUTERS/Brendan McDermid

Dia menambahkan, tugas bank sentral tak cukup hanya memulihkan ekonomi. Masih ada tugas lainnya membuat tingkat pengangguran menurun.

“Sebenarnya kami belum selesai. Kami jelas berada di jalur yang baik, tapi kami belum selesai, dan saya tidak suka melihat kami mengalihkan fokus kami. Ada sekitar 10 juta orang yang perlu kembali bekerja,” lanjutnya.

The Fed memproyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun ini tumbuh 6,5 persen, lebih tinggi dari proyeksi mereka pada Desember tahun lalu sebesar 4,2 persen. Proyeksi ekonomi kali ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah AS selama hampir 40 tahun atau sejak 1984.

Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan mencapai 3,3 persen di 2022 dan 2,2 persen pasa 2023. Angka ini pun meningkat dari proyeksi Desember yang hanya 1,8 persen hingga 2023.

“Data yang kuat ada di depan kita. Kasus COVID-19 menurun, vaksinasi bergerak cepat,” kata Powell.

Untuk inflasi, The Fed memproyeksikan tumbuh 2,2 persen selama tahun ini, di atas target bank sentral yang sebesar 2 persen. Proyeksi inflasi juga lebih tinggi dari proyeksi yang mereka lakukan di Desember sebesar 1,8 persen.

Sementara itu, tingkat pengangguran kini diperkirakan hanya turun 4,5 persen pada akhir tahun ini. Padahal sebelumnya, The Fed memperkirakan tingkat pengangguran bisa turun 5 persen.

Powell menegaskan, pihaknya tak akan bereaksi berlebihan jika terdapat tanda-tanda kenaikan harga. Ini merupakan tanggapan yang baru bagi bank sentral, di mana pada masa sebelumnya, The Fed akan mengubah kebijakan ketika melihat sinyal kenaikan inflasi. Menurut dia, inflasi akan tetap rendah, bahkan ketika tingkat pengangguran turun lebih dalam.

Secara keseluruhan pernyataan Powell tersebut disambut baik oleh pasar. Hal ini mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury kembali menurun. Pada Rabu, yield US Treasury mencapai 1,68 persen. Saat ini menurun menjadi 1,63 persen.

Indeks utama di Wall Street pun mencatatkan rekor tertinggi. Dow Jones Industrial Average naik 0,58 persen menjadi berakhir pada 33.015,37 poin, sedangkan S&P 500 naik 0,29 persen menjadi 3.974,12, dan Nasdaq naik 0,4 persen menjadi 13.525,20.

Ini adalah pertama kalinya Dow ditutup di atas 33.000 poin. Begitu juga dengan S&P dan Nasdaq yang mencapai rekor tertingginya sejak Februari 2021.