The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga 75 Bps, Apa Dampaknya ke Pasar Keuangan RI?
ยทwaktu baca 4 menit

Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, kembali menaikkan suku bunga 75 basis poin (bps) pada Rabu (27/7). Chief Economist BRI, Anton Hendranata, mengungkapkan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 75 bps sebetulnya telah diperkirakan oleh pasar.
Apalagi, tingkat inflasi AS yang masih cukup tinggi yaitu sebesar 9,1 persen yoy hingga Juni 2022. Dengan kenaikan tersebut, tingkat suku bunga acuan The FED saat ini menjadi sebesar 2,25-2,50 persen pa.
Anton mengungkapkan, kenaikan suku bunga The Fed tentunya dapat memberikan dampak bagi pasar finansial atau keuangan dan valas Indonesia. Naiknya suku bunga The Fed menyebabkan investor banyak melarikan aset finansialnya dari negara berkembang menuju AS, karena return yang ditawarkan menjadi lebih besar dan risiko investasinya relatif kecil dibanding negara berkembang.
"Aset finansial AS yang menarik tentunya dapat mendorong capital outflow pada pasar finansial Indonesia, baik di pasar saham maupun obligasi. Sebetulnya, pasar obligasi dan saham Indonesia sudah mengalami capital outflow sejak bulan Mei 2022, ketika The FED menaikkan suku bunganya secara agresif sebesar 50bps," kata Anton dalam risetnya, Jumat (29/7).
Kenaikan suku bunga saat ini tentunya dapat semakin menekan pasar obligasi dan saham nasional. Selain itu, terjadinya capital outflow pada pasar finansial dapat mendorong depresiasi nilai rupiah karena permintaan terhadap dolar AS yang meningkat dari penjualan aset finansial rupiah.
Berdasarkan riset tim Chief Economist BRI, fundamental ekonomi saat ini cukup kuat untuk menahan gejolak eksternal, baik pada sektor riil-perbankan, sektor finansial-valas, maupun sektor eksternal-perdagangan.
"Lebih lanjut, kami juga menunjukkan bahwa sektor finansial-valas Indonesia relatif lebih robust saat ini dalam menahan gejolak eksternal, terlihat dari cadangan devisa yang less sensitive terhadap capital outflow di pasar finansial dan perdagangan. Cadangan devisa pada Juni 2022 tercatat sebesar USD 136,4 miliar, naik dari Mei 2022 sebesar USD 135,6 Miliar," katanya.
Nilai devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor, atau 6,4 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan. Dengan cadangan devisa yang kuat dan kepemilikan asing yang rendah terhadap SBN, diperkirakan dapat menahan volatilitas pasar finansial Indonesia.
BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga pada Agustus
Bank Indonesia (BI) masih menjaga BI7DRR di level 3,5 persen pada RDG Juli 2022. Menurut Anton, BI memandang kondisi nilai rupiah saat ini masih relatif stabil, baik nilai internal maupun eksternal. Tingkat inflasi CPI Indonesia secara umum memang meningkat cukup signifikan menjadi sebesar 4,35 persen yoy pada Juni 2022.
"Namun demikian, nilai inflasi inti nasional masih cukup terjaga dan stabil di bawah 3 persen yoy, yaitu 2,63 persen pada Juni 2022. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa kenaikan inflasi Indonesia saat ini bukan didorong oleh faktor demand melainkan faktor supply akibat kenaikan harga komoditas pangan," terangnya.
Meskipun nilai tukar rupiah sedang mengalami tren depresiasi terhadap dolar AS, nilainya masih relatif rendah dibandingkan dengan depresiasi mata uang negara emerging markets lainnya. Per 22 Juli 2022, rupiah hanya terdepresiasi sebesar 5,09 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata depresiasi nilai tukar EM lainnya sebesar 8 persen.
Kondisi itu, kata Andre, membuat BI masih memiliki ruang untuk bisa menjaga tingkat suku bunga acuannya di level 3,5 persen sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional.
"Dengan berbagai pertimbangan tersebut, kami pikir cukup masuk akal jika BI masih menahan suku bunga acuannya di RDG Juli 2022. Namun demikian, ke depan rasanya BI akan mulai menaikkan suku bunganya pada RDG Agustus 2022," tandasnya.
Penyebab BI diperkirakan naikkan suku bunga karena level nilai rupiah yang sudah berada di kisaran Rp 15.000-an, dan tingkat inflasi inti juga diperkirakan dapat merangkak hingga 2,82 persen yoy pada Juli 2022 sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan demand masyarakat.
Inflasi CPI juga diperkirakan dapat meningkat hingga 4,89 persen, sejalan dengan masih terganggunya pasokan suplai bahan pangan akibat cuaca yang tidak menentu, utamanya pada cabai dan bawang.
