The Fed Naikkan Suku Bunga, Negara Berkembang Terancam Krisis Keuangan
·waktu baca 2 menit

Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga 75 basis poin (bps) pada Rabu (27/7). Artinya, The Fed sudah dua kali berturut-turut menaikkan suku bunga acuan sebagai upaya menekan inflasi agar perekonomian tetap tumbuh.
Dengan demikian suku bunga pinjaman overnight menjadi di kisaran 2,25-2,5 persen, pergerakan pada Juni dan Juli 2022. Ini menjadikan tindakan yang paling ketat The Fed secara berturut-turut sejak awal 1990-an.
Merespons hal tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut kenaikan suku bunga yang agresif di Amerika selalu diikuti dengan krisis keuangan di negara berkembang.
"Dengan kenaikan suku bunga yang makin agresif dari Federal Reserve, membuat adanya tantangan atau ancaman resesi. Setiap Amerika menaikkan suku bunga apalagi secara sangat agresif biasanya diikuti oleh krisis keuangan dari negara-negara emerging (berkembang) " kata Sri Mulyani dalam konferensi APBN KiTa Edisi Juli 2022, Rabu (27/7).
Meskipun demikian, bendahara negara tersebut memastikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih relatif aman. Dalam survei tersebut, potensi resesi Indonesia hanya 3 persen dibandingkan negara lain.
Di sisi lain, Sri Mulyani juga tetap mewaspadai gejolak ekonomi saat ini, sebab semua indikator global dalam keadaan negatif, dari yang sebelumnya mulai bangkit usai dua tahun dihantam pandemi COVID-19, kini kembali melemah.
"Pada saat yang sama kita juga melihat kompleksitas dari policy yang bisa menimbulkan spillover policy. Dari sisi moneter di negara-negara maju berpotensi menimbulkan over atau imbas negatif ke negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia harus juga waspada," tandasnya.
