Kumparan Logo

Tips Agar Keuangan Bapak-bapak Tak Jebol, Walau Punya Banyak Hobi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi piringan hitam. Foto: Rizal Hanafi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi piringan hitam. Foto: Rizal Hanafi/ANTARA FOTO

Bagi seorang bapak, memiliki hobi bisa menjadi penghilang rasa penat di tengah tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Bisa mancing, bermain padel bareng teman atau sekadar mengoleksi barang tertentu seperti mobil-mobilan, piringan hitam, atau action figure.

Namun, sang bapak tetap harus menyadari bahwa kepuasan pribadi tidak boleh mengorbankan stabilitas rumah tangga, termasuk dari sisi pembagian waktu dan alokasi budget. Jangan sampai punya hobi mahal, yang malah mengambil jatah biaya dapur atau uang sekolah anak.

Untuk itu, bapak-bapak perlu punya strategi dan teknik pengelolaan uang yang baik. Salah satunya dengan memisah-misahkan pos anggaran untuk keperluan dasar, investasi masa depan, hingga urusan hobi.

Seperti yang dilakukan Aldo (40). Ia punya hobi baru yang bisa menguras tabungan jika tidak dikontrol. Dalam beberapa bulan terakhir, dia mulai menggeluti kegemaran mengoleksi piringan hitam. Selain anggaran untuk beli mesin pemutarnya atau turntable, belanja piringan hitamnya juga menjadi godaan tersendiri.

Harga piringan hitam ini berbeda-beda, tergantung pada popularitas artis, tahun rilis, kondisi fisik, hingga kelangkaan. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan jika barangnya langka dan kondisi fisiknya bagus.

“Tiap belanja kadang lupa diri, pas bayar baru kaget lihat total harganya,” ucapnya.

Akhirnya Aldo pun memilih menggunakan fitur Kantong dari Bank Jago untuk membantu mengontrol pengeluaran untuk hobinya itu. Bahkan, punya Kantong khusus yang diberi nama Vinyl.

“Kalau saldo di kantong itu sudah habis, ya sudah enggak boleh belanja lagi,” katanya.

Sementara itu, Rian (30), warga Bogor, Jawa Barat, menekuni hobi memancing sejak setahun terakhir. Meski memiliki hobi yang membutuhkan perlengkapan khusus, Rian mengaku tak selalu menghabiskan waktu setiap minggu untuk memancing.

"Belum tentu seminggu itu main, tapi per bulan. Minimal dalam sebulan, mancing tuh 1 kali lah yang di laut lepas ya tapi. Kalau lagi sibuk sama kerjaan paling yang deket-deket di danau atau sungai aja," kata Rian kepada kumparan, Kamis (2/4).

Dari sisi biaya, Rian mengungkapkan pengeluaran awal memang cukup besar untuk membeli perlengkapan.

"Waktu awal mulai kan pasti beli alat-alat pancing, total Rp 5 jutaan. Tapi itu for good kan, per bulan nggak ada Rp 500 ribu pengeluaran buat hobi saya ini. Jadi masih affordable dan ramah di kantong rumah tangga lah. Keuangan tetep istri yang atur," terang Rian.

Dalam mengatur keuangan, Rian dan istri menempatkan kebutuhan keluarga sebagai prioritas utama. Dia membagi penghasilannya dalam beberapa pos, sekitar 60 persen dari gaji untuk kebutuhan harian seperti makan, transportasi, tagihan air dan listrik.

Lalu, 20 persen untuk tabungan dan investasi, sekitar 10 persen untuk hobi, dan 10 persen sebagai dana darurat.

Fitur Kantong dari Bank Jago. Foto: Bank Jago

Untuk menjaga disiplin dalam pengelolaan keuangan, Rian dan istri mengaku menggunakan aplikasi Jago untuk memantau arus pemasukan dan pengeluarannya secara rutin.

Harus Punya Batas Ideal

Perencana keuangan Andy Nugroho menegaskan alokasi dana untuk hobi memang perlu dibatasi agar tidak mengganggu kebutuhan utama.

“Idealnya 10 persen. Itu memang secara pembagian pos-pos pengeluaran, saya biasa menyarankan seseorang yang memiliki hobi untuk melihat time-nya dia, bisa mengalokasikan 10 persen dari total pengeluarannya dia," kata Andy kepada kumparan, Rabu (8/4).

Menurutnya, pengelolaan keuangan bisa dilakukan dengan satu atau beberapa rekening, tergantung kedisiplinan masing-masing individu.

“Ya sebaiknya dia membaginya boleh dengan rekening yang berbeda, boleh dengan mungkin kantong uang yang berbeda, biasanya mereka mungkin bagi dalam kantong-kantong yang berbeda seperti itu," terang Andy.

Selain itu, Andy menekankan setelah skema pos-pos pengeluaran dibuat, baik melalui rekening terpisah, fitur kantong digital, maupun metode amplop, kunci utamanya adalah disiplin dalam menjalankannya. Tanpa disiplin, perencanaan yang sudah tersusun rapi berpotensi tidak berjalan efektif dan justru membuat pengeluaran sulit dikendalikan.

Andy juga menjelaskan pemilihan metode pengelolaan apakah menggunakan satu rekening atau beberapa rekening, sepenuhnya bergantung pada kemampuan individu dalam menjaga konsistensi.

Ilustrasi rencana keuangan Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Bagi yang sudah terbiasa dan disiplin, satu rekening tidak menjadi masalah. Namun bagi yang masih sering “kecolongan” dalam pengeluaran, pemisahan dana secara digital sangat disarankan agar setiap pos tetap aman.

Katanya, hobi juga bisa menjadi masalah jika pengeluarannya melewati batas yang telah ditentukan.

“Ketika pengeluaran untuk hobi sudah lebih dari 10 persen ini dan bahkan mungkin sudah mengganggu sampai uang sekolah anaknya tidak terbayarkan, disitulah kemudian hobi tersebut dianggap sudah melampaui batas," ungkap Andy.

Lebih lanjut, Andy menyoroti pentingnya komunikasi antara pasangan dalam mengatur pengeluaran hobi. Menurutnya, tak ada rumus pasti apakah lebih baik meminta izin terlebih dahulu atau meminta maaf setelahnya, karena setiap pasangan memiliki dinamika komunikasi yang berbeda.

Kata dia, yang terpenting adalah adanya kesepahaman bahwa pengeluaran hobi tak melampaui batas yang telah disepakati dan tidak mengganggu kebutuhan utama keluarga.

Selain membatasi pengeluaran hobi, Andy juga menekankan pentingnya tetap menyisihkan dana untuk investasi.

Andy melanjutkan, alokasi untuk investasi sebaiknya diposisikan setara dengan anggaran hobi, masing-masing sekitar 10 persen dari pendapatan. Ini penting agar keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga.

Tips memilih Jenis Investasi

Andy melanjutkan, jenis investasi mesti disesuaikan dengan profil risiko dari masing-masing pribadi. Dia mengklasifikasikan ke dalam beberapa jenis, yakni konservatif, moderat, dan agresif.

Seperti profil risiko konservatif, kata Andy, seseorang bisa mencoba instrumen tabungan atau deposito. Selain itu, aset properti dan logam mulia juga bisa jadi andalan. Di profil ini, seseorang juga biasanya berinvestasi pada reksa dana pasar uang (RDPU).

Sementara profil risiko moderat, Andy berpendapat RDPU juga terkadang jadi pilihan, meskipun sebenarnya pertumbuhan potensi imbal hasilnya bisa lebih kecil daripada reksa dana pasar tetap (RDPT). Menurut dia, di situasi sekarang justru RDPU yang pertumbuhannya lebih tinggi. Maka dengan speknya yang aman juga maka dikoleksilah instrumen ini oleh para investor yang bertipikal moderat.

Di sisi lain, untuk profil risiko agresif, ia merekomendasikan produk high risk high return seperti saham dan valuta asing (valas).

“Nah kebalikannya buat yang agresif itu contohnya adalah produk-produk yang cocok itu adalah yang seperti pasar saham gitu kan,” tutur Andy.

Pertimbangan berikutnya, Andy bilang, ketika mau berinvestasi mesti melihat tujuan. Contoh, jangan sampai uang yang diinvestasikan pada level agresif, malah ditarik lebih cepat alias tak menimbang aspek jangka panjang.

Menurut Andy, seseorang bisa menaruh dana di instrumen investasi paling pendek dalam jangka waktu satu tahun. Level menengah tiga tahun, dan untuk jangka panjang di atas lima tahun.

Selain itu, penting juga bagi masyarakat untuk melakukan diversifikasi investasi dengan membagi-bagi uang investasi ke berbagai jenis aset seperti saham, obligasi, emas, atau reksadana, alih-alih menaruh semuanya di satu tempat saja.

Teknologi Perbankan Bisa Permudah Investasi

Fitur Kantong dari Bank Jago. Foto: Bank Jago

Di zaman yang serba dinamis ini, kata Andy, banyak cara untuk membantu seseorang agar mencapai kesejahteraan finansial melalui investasi. Dia menuturkan, produk perbankan digital acapkali menawarkan kemudahan ini.

Contohnya, ada teknologi perbankan yang bisa memudahkan pengguna untuk mulai berinvestasi, dan juga membantu mereka agar lebih disiplin dengan fitur yang memungkinkan mereka mengatur alokasi dana secara otomatis.

Salah satu bank yang menyediakan ekosistem untuk berinvestasi adalah Bank Jago. Di aplikasi Jago, investasi bisa dilakukan dengan lebih mudah karena terdapat tampilan terintegrasi yang memungkinkan nasabah melihat seluruh portofolio investasi yang tersebar di berbagai platform ke dalam satu tab di Aplikasi Jago dan terhubung dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta platform investasi dari mitra ekosistem digital yang sudah ada, seperti Bibit dan Stockbit.