Toko Buku Kian Tak Laku
·waktu baca 3 menit

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, suasana lengang terasa di kios-kios buku bekas yang pernah berjaya. Khususnya di sekitar Terminal Senen yang kini hanya menyisakan segelintir lapak yang buka.
Penjual buku bekas dan baru di samping Terminal Senen, Gofur (48), mengaku kesepian seperti ini sudah biasa.
"Emang sepi, kayak biasa udah biasa. Hari ini libur cuti, tapi paling dateng 3-5 orang (ke sini). Nggak rame, hari biasa juga sepi,” katanya saat ditemui kumparan, Jumat (30/5).
Lapaknya tidak terhubung ke toko daring, tapi Gofur masih melayani pemesanan melalui pesan singkat atau telepon.
“Kadang ada nanya orang ke saya, ada buku ini nggak, kalo ada saya bilang, nanti mereka ke sini, udah rezekinya di sini," lanjut dia.
Berpindah ke kawasan Kwitang, Iwan, seorang pedagang buku, masih bertahan dengan koleksi buku lawas, langka, hukum, hingga kedokteran. Namun jumlah pengunjung kian menurun.
"Ada ini buku kedokteran, farmasi, yang keilmuan itu ada impor. Nggak tau dari mana (asal impor), bisa kena di harga Rp 300.000 sampe Rp 500.000 itu (buku kedokteran)," ucap Iwan.
Iwan mengaku keuntungan bulanannya sekitar Rp 5 juta saat sepi, tapi bisa menembus Rp 10 juta lebih saat musim libur sekolah atau menjelang ujian.
“Untung-untungnya paling Rp 5 jutaan kurang (sebulan) kalo lagi sepi ini, kalo ramai moncer Rp 10 juta lebih kita pegang,” kata Iwan.
Di Pasar Kenari, kondisi lebih sunyi. Aura, pedagang yang sudah berjualan sejak 2019, mengatakan keramaian hanya terjadi saat musim libur sekolah.
“Dulu rame ya pas awal, penjual buku di Jakpus kan sempet ditata. Di sini, ramenya musiman. Pas libur anak sekolah, rame ini, pada nyerbu buku edukasi lah banyak,” jelas Aura.
“Waduh, nggak tau ya (keuntungan), internal, tapi kalo lagi rame ya rame, kalo sepi ya kita sepi. Tapi tetep buka tiap hari jaga-jaga,” tandas ia.
Penjualan Buku Fisik Terus Merosot
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman Nugraha, menyatakan industri penerbitan buku di Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Menurut Arys, disrupsi teknologi serta menurunnya minat baca masyarakat akibat pergeseran konsumsi ke media sosial dan platform video berdampak signifikan pada penurunan penjualan buku dan berkurangnya jumlah penerbit aktif.
“Ekosistemnya sedang sakit, tapi perhatian pemerintah masih sangat minim. Tindakannya kurang,” ujar Arys saat dihubungi kumparan, Jumat (30/5).
Ia menjelaskan bahwa penjualan buku fisik mengalami penurunan tajam sejak lima tahun terakhir, terutama sejak pandemi. Sayangnya, pertumbuhan penjualan buku digital belum cukup kuat untuk menutupi penurunan tersebut.
Di sisi lain, kontribusi buku digital di Indonesia saat ini baru sekitar 10 persen dari total pasar, jauh dari cukup untuk sebagai kompensasi penurunan buku cetak.
"Disrupsinya bukan datang dari dunia buku, tapi dari perubahan kebiasaan masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu di YouTube, TikTok, dan media sosial lainnya,” jelasnya.
Arys juga menyoroti berkurangnya jumlah penerbit aktif. Dari 2.721 penerbit yang terdaftar hingga Desember 2024, hanya 992 yang masih aktif. Sisanya, menurut Arys, kemungkinan besar hanya menjual stok lama dan tidak lagi menerbitkan buku baru.
Penurunan juga terlihat dari cetakan awal setiap judul buku. Sebelum pandemi, satu judul bisa dicetak hingga 3.000 eksemplar. Kini, banyak penerbit hanya mampu mencetak 1.000 eksemplar, bahkan hanya 300 eksemplar.
Tantangan lain yang mengancam kelangsungan industri buku adalah maraknya pembajakan, khususnya buku digital.
Melihat kondisi ini, Ikapi mendorong pemerintah untuk lebih aktif dalam membangun budaya baca, melindungi penerbit, dan memberikan insentif fiskal bagi pelaku industri perbukuan.
Arys juga mengusulkan sejumlah bentuk insentif fiskal, seperti pengurangan pajak penghasilan bagi penulis dan royalti, insentif untuk bahan baku seperti kertas, serta dukungan untuk penyelenggaraan pameran buku.
