kumparan
15 Februari 2020 18:34

Tolak Kenaikan Tarif, Aplikasi Ojek Online Asal Rusia Ajukan Usulan

Ojek online Maxim. Foto: Instagram / @maxim_indo
Kementerian Perhubungan tengah mengkaji kenaikan tarif ojek online untuk wilayah Jabodetabek. Rencana kenaikan tarif ini dibahas usai para pengemudi menyampaikan usulan ke pemerintah lantaran iuran BPJS Kesehatan naik.
ADVERTISEMENT
Rencana tersebut mendapat penolakan dari aplikasi ojek online pendatang baru, Maxim. Menurut perusahaan ojol asal Rusia yang mulai beroperasi di Indonesia pada pertengahan tahun lalu itu, batasan tarif yang diberlakukan pemerintah saat ini masih terbilang mahal.
Direktur Pengembangan Maxim di Indonesia Dmitry Radzun mengungkapkan, perusahaan pun mengajukan usulan ke pemerintah. Usulan ini menurutnya dihitung berdasarkan kepentingan seluruh pihak yang terlibat.
Kata dia, dari sisi konsumen, penetapan tarif semestinya harus dapat mempertimbangkan jumlah pendapatan masyarakat yang nantinya akan secara langsung menggunakan layanan. Sulit untuk dipercaya bahwa penduduk berpenghasilan rendah akan menyetujui tarif minimal yang tinggi.
Ojek online Maxim. Foto: Instagram / @maxim_indo
Kenyataanya, kata dia, adanya daya beli yang berbeda di setiap daerah dengan kebutuhan akan transportasi yang sama harusnya dapat menjadi pertimbangan dalam keputusan mengenai tarif ojek online.
ADVERTISEMENT
"Pada akhirnya, penerapan tarif seperti ini akan mengakibatkan hilangnya kesempatan bagi sebagian besar penduduk untuk menggunakan ojek dengan harga terjangkau. Tidak semua wilayah memiliki transportasi umum yang cukup maju untuk mengganti taksi dan ojek," kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/2).
Dari sisi pengemudi, aspek pendapatan dan pengeluaran harus dipertimbangkan. Bagaimana caranya agar pengemudi bisa mendapatkan keuntungan dan mampu menutup pengeluaran pokoknya. Sementara itu dalam kebanyakan kasus, konsumen (penumpang) juga menolak perjalanan yang terlalu mahal, sehingga membuat jumlah pesanan dan penghasilan pengemudi menurun.
"Sebaliknya, dengan biaya perjalanan yang terjangkau, pengemudi diuntungkan dengan banyaknya pesanan yang diterima," ujar Public Relation Specialist Maxim Indonesia, Havara Evidanika ZF.
Dari sisi aplikator, menurut dia, tidak semua aplikator memiliki posisi yang sama, menyasar pasar yang sama, dengan strategi yang sama. Perbedaan menjadikan pasar lebih seimbang sehingga masyarakat mempunyai pilihan, semua kalangan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses transportasi yang memadai.
ADVERTISEMENT
"Aplikator juga memiliki kesempatan yang sama untuk mempertahankan keberlangsungan bisnisnya," terangnya.
Maxim pun memberikan usulan tarif ojek online yang dihitung berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR), perkiraan pendapatan minimum pengemudi, dan persentase gabungan dari UMR dan pendapatan minimum pengemudi.
Pendapatan minimum pengemudi dihitung berdasarkan rata-rata jumlah pesanan per hari (50), jumlah hari kerja (25) dan tarif minimal. Tarif minimal yang dihitung adalah tarif untuk perjalanan sejauh 2 kilometer. Faktanya sebagian besar perjalanan lebih panjang.
Berikut adalah analisis tarif yang dibuat Maxim:
Usulan tarif Ojek Online dari Maxim. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
“Sebagai aplikator kami juga berharap, apabila pengaturan tarif ini dibuat agar iklim persaingan usaha lebih kondusif dan stabil, maka pertimbangan tersebut juga berlaku tidak hanya kepada pengemudi namun juga aplikator. Maxim ingin menjadi penyeimbang pasar, yang menawarkan tarif ekonomis dan dapat menjadi pilihan masyarakat menengah ke bawah," katanya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan