Kumparan Logo

Tom Lembong Kritik Diplomasi RI Cuma Fokus Untung, Rugi dan Investasi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Co Captain Timnas Anies-Cak Imin (AMIN), Tom Lembong di acara peluncuran buku Anies Baswedan The Rising Star, di Markas Pemenangan Timnas AMIN, Menteng Jakarta, Senin (29/1/2023).  Foto: Akbar Maulana/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Co Captain Timnas Anies-Cak Imin (AMIN), Tom Lembong di acara peluncuran buku Anies Baswedan The Rising Star, di Markas Pemenangan Timnas AMIN, Menteng Jakarta, Senin (29/1/2023). Foto: Akbar Maulana/kumparan

Co-Captain Timnas Anies-Cak Imin (AMIN), Tom Lembong, mengungkapkan pendekatan diplomasi internasional yang akan digunakan Paslon 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar bila terpilih di Pilpres 2024. Ia menegaskan diplomasi nantinya akan berdasarkan nilai dan norma.

"Apa implementasi perubahan dalam bidang diplomasi dari Anies-Muhaimin. Istilah yang kami pakai, pergeseran dari transaksional atas dasar hitungan untung rugi, bergeser ke pendekatan yang berbasis nilai dan norma," kata Tom saat peluncuran buku Anies Baswedan The Rising Star, di Markas Pemenangan Timnas AMIN, Menteng Jakarta, Senin (29/1).

Tom mengungkapkan pendekatan diplomasi internasional tersebut harus mengerti nilai dan norma yang dipakai di Indonesia. Dia mencontohkan, salah satu norma itu adalah prinsip nyawa manusia di atas segalanya. Dalam hal ini dia menyinggung pembangunan industri di Tanah Air.

"Istilah saya, the premacy human life. Nyawa manusia harus kita junjung di atas segalanya. Kalau ada benturan kepentingan antara nyawa dan industri, yang ngalah itu industri," ujar Tom Lembong.

Nilai dan norma kedua yang dia contohkan adalah prinsip keadilan. Dia memastikan Anies Baswedan selalu mengedepankan prinsip keadilan dalam setiap pengambilan kebijakannya.

"Itu inti slogan kampanye kita, adil dan makmur untuk semua. Jangan hanya untuk kalangan tertentu, lapisan tertentu, segelintir orang, dan sebagainya," ungkap Tom Lembong.

Menurutnya, hal itu yang menjadi perbedaan antara diplomasi internasional yang hanya transaksional menghitung untung rugi, dengan diplomasi internasional berbasis nilai dan norma bangsa Indonesia. Eks Kepala BKPM itu juga bilang bagaimana diplomasi transaksional membuat pemerintah hanya fokus untung rugi dan nominal investasi yang masuk Indonesia.

"Transaksional menghitung untung rugi, berapa investasi yang bisa saya dapat, berapa ekspor yang bisa saya dapat. Kalau seperti itu akhirnya kita zig-zag, kejar kiri kanan. Oportunis," kata Tom Lembong.

"Ada yang menawarkan uang lebih, kita ke sana. Tiba-tiba ada yang nawarin uang lebih kita ke sana. Yang ini ditinggal ternyata ilusi. Lalu balik lagi, ya enggak diterima. Itu ngawur. Kita enggak punya kiblat. Kita enggak punya kompas. Jadi kompas moral harus utama," tegas Tom Lembong.